Webtoon "Parallel City": Membunuh atau Dibunuh?

Parallel City

Gambar diambil dari blog Goda.

Sudah semingguan ini saya ketagihan mengikuti episode terbaru dari Webtoon berjudul “Parallel City” karya komikus Goda-nim. Manhwa terbitan Naver ini sukses membuat jantung saya dag-dig-dug nggak karuan di setiap babaknya.

“Parallel City” sendiri mengisahkan perjuangan bocah laki-laki bernama Choi Min-hyun untuk kembali ke planet Earth 2 atau yang lazimnya kita sebut dengan “Bumi”. Choi Min-hyun, yang terjebak di Earth 1, harus berusaha mati-matian untuk menemukan cara agar ia bisa pulang ke tempat asalnya dan melenyapkan Doppelgänger-nya, atau nyawanya sendiri yang menjadi taruhannya.

Di “Parallel City” yang bertemakan parallel universe (dunia paralel), diceritakan bahwa sesungguhnya dunia paralel itu nyata. Dan nun jauh di luar angkasa sana, terdapat sebuah planet yang menyerupai Bumi, lengkap dengan seisinya yang merupakan kembaran dari makhluk-makhluk Bumi.

Di planet tersebut, yang disebut dengan Earth 1, kekacauan dan pandemi merajalela. Virus tidak diketahui menjangkiti sebagian besar penduduknya. Akibatnya, mereka yang terjangkiti berubah menjadi semacam zombie.

Para penduduk Earth 1 dilanda gelombang kepanikan besar-besaran. Peradaban hancur. Kemanusiaan pun hilang nyaris tak bersisa.

D, kembaran Choi Min-hyun, menghalalkan segala cara demi bertahan hidup di Earth 1 yang semakin hari semakin kacau kondisinya. Tak mengherankan jika D tumbuh menjadi bocah laki-laki yang brutal dan berhati dingin.

Terlebih dengan ditemukannya D.L.S, sebuah alat berupa jarum suntik yang memungkinkan penggunanya untuk bertukar dimensi, tekad D untuk melarikan diri bertambah kuat. Begitu D berhasil mengamankan satu untuk dirinya sendiri, dia tidak ragu untuk lekas-lekas membuktikan kemanjurannya.

Benar saja, dalam sekejap D berpindah tempat dan berdiri di antara lalu lalang penduduk lokal di sebuah kota di Korea Selatan. D selamat. Sayangnya, masalah baru timbul.

Seperti yang diketahui, kemunculan Doppelgänger kerap diartikan sebagai pertanda bahwa nasib buruk akan terjadi bagi siapa saja yang menemuinya. Premis yang sama pun valid di dalam “Parallel City”.

Bahkan, supaya ceritanya semakin seru, di “Parallel City” berlaku norma bahwasannya Doppelgänger dan kembarannya tidak bisa hidup berdampingan di dunia yang sama. Salah satunya harus tinggal di planet yang berbeda, atau lebih ekstremnya lagi: entah itu D atau Choi Min-hyun, salah satu di antaranya mesti mati.

Jika tidak, konsekuensinya lebih berisiko. Keduanya akan tewas di waktu yang bersamaan jika gagal melenyapkan yang lainnya.

Maka D bersusah payah mencari di mana keberadaan Choi Min-hyun. Itu demi satu tujuan. D teramat ingin menjadi satu-satunya “Choi Min-hyun” yang menjalani kehidupan normal di Bumi. D muak dengan kesehariannya yang dipenuhi dengan pertempuran demi bertahan hidup barang sehari lagi.

Dan, ketika D berhasil menemukan Choi Min-hyun, pertikaian pun tidak dapat dielakkan. Namanya saja Doppelgänger, sudah tentu kondisi fisik keduanya sama persis. Choi Min-hyun yang notabene ahli parkour terkejut mendapati D yang sama atletisnya seperti dirinya.

Malahan, kemampuan bertarung D berkali-kali lipat mengungguli kemampuan Choi Min-hyun. Tentu, skill itu didapatkan D dari kehidupan sehari-harinya yang buas di Earth 2.

Karena kelalaian kecil, Choi Min-hyun lengah. Dia tidak menyadari bahwa D memiliki D.L.S cadangan yang dirampasnya dari makhluk Earth 1 lainnya di Bumi.

Begitu D menancapkan alat tersebut pada Choi Min-hyun, pemuda itu segera menghilang dari pandangan, menjelajahi ruang dan waktu, sebelum akhirnya terdampar di Earth 1, kampung halaman D yang sama sekali tidak bersahabat.

Sejauh ini alur ceritanya sungguh menarik dan, seperti yang saya bilang, membikin jantung saya dag-dig-dug nggak karuan.”Parallel City” sudah mencapai season kedua. Lalu, di musim baru ini, akan dikisahkan perjuangan Choi Min-hyun untuk membalaskan dendamnya kepada D.

Terbayang bukan, seperti apa peliknya lika-liku kehidupan Choi Min-hyun di Earth 1? Terlebih begitu mengetahui latar belakang sejarah kehancuran planet tersebut, saya memahami tekad kuat D untuk mencuri posisi Choi Min-hyun.

Saya bahkan sempat tercekat saat mengingat lagi perkataan D untuk kembarannya pada beberapa pertemuan awal mereka.

You have no idea the hell I lived in… How hard it was to get by, to survive every single day. And here you are, wasting your life away. You’re a fucking loser. There can only be one of us. And I deserve it more than you.

Ucapan ini membuat saya merinding. Agaknya betul satu ungkapan itu. We often take things for granted.

Tetapi saya juga bisa memahami hasrat Choi Min-hyun untuk tetap hidup dan merebut kembali posisinya.

Bagaimanapun juga, itu nggak adil untuk Choi Min-hyun. Bukankah keduanya telah ditakdirkan untuk menuruti garis hidupnya masing-masing? Jelas, nasib yang menimpanya sekarang benar-benar menyimpang dari apa yang sudah ditetapkan.

Di sisi lain, D juga berhak untuk hidup bahagia.

Eh, salah! Keduanya berhak hidup bahagia, tetapi bagaimana, ya? Aduh, kepala saya jadi pusing gara-gara konflik yang runyam semacam ini!

Kalau teman-teman juga tertarik untuk mengetahui kelanjutan dari kisah Choi Min-hyun dan D yang super menegangkan ini, baca “Parallel City” di LINE Webtoon (English). Episode barunya di-update setiap hari Kamis, lo. Supaya nggak ketinggalan, gabung sebagai anggota LINE Webtoon dan klik “Subscribe”, ya.

Sejauh ini, bagaimana pendapat teman-teman tentang “Parallel City”? Jika disuruh memilih, pihak manakah yang akan kalian dukung: D atau Choi Min-hyun?

Dan lagi, apakah kalian percaya dengan yang namanya “Doppelgänger” ataupun dunia paralel? Andai kamu mesti membuat keputusan berat, apakah kamu akan memilih untuk membunuh atau dibunuh? Coba bagikan pendapatmu, ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

0 Komentar

Back to Top