Bagaimana Sewajarnya Menyikapi Klien yang Doyan Menawar dengan Harga Sadis?

Menyikapi Klien yang Doyan Menawar dengan Harga Sadis

Saya ingat betul pengalaman pertama saya menjumpai klien yang doyan menawar dengan harga sadis.

Tersebutlah Mas Ari (nama samaran).

Beliau menjelaskan bahwa website-nya yang bergerak di bidang entertainment sedang mencari penulis untuk mengunggah konten-konten harian di sana. Tertarik dengan deskripsi pekerjaan yang dijabarkan, saya pun menghubungi beliau secara personal (via fitur chat Projects.co.id) dan mempromosikan jasa saya.

Nggak berselang lama, masuk pesan balasan dari Mas Ari. Akunya, rate yang saya tawarkan terlalu tinggi. Kala itu, lantaran saya masih berstatus penulis lepas pemula, harga yang saya tetapkan per satu artikel dengan panjang 500-700 kata adalah 10.000 rupiah.

Hemat saya, ini sudah rate yang paling murah yang bisa saya berikan. Bahkan, saya selalu memastikan bahwa artikel-artikel yang saya tulis: 1) bebas plagiarisme atau sedikitnya 90% unik, 2) SEO-friendly, dan 3) enak dibaca alias bukan hasil terjemahan apalagi rewrite a la kadarnya.

Yup, cuma bermodalkan ceban, para klien potensial bisa membawa pulang tulisan-tulisan dengan paket komplet! Kurang baik apa coba saya?

Sayangnya, Mas Ari nggak sepemikiran dengan saya.

Tarif itu masih dinilainya terlalu mahal. Saya pun tergoda untuk bertanya, “Kalau begitu berapa harga yang dianggap “pantas” oleh Mas Ari?”. Andai tidak terlampau jauh selisihnya dari penawaran pertama saya, ya sudahlah, saya terima usulan itu, batin saya.

“Lima ribu lah, Mbak. Biasanya saya order di penulis-penulis lain harganya segitu. Lagian saya perhatiin history proyek Mbak minim review tuh. Fee segini itu yang paling pas buat freelance writer pemula, Mbak,” balasnya.

Tunggu, tunggu.

Jadi, maksud Mas Ari yang baik dan budiman ini, Mas menyuruh saya menulis satu artikel dengan kualitas lumayan dengan upah 7,1 sampai 10 perak per kata, begitu?

Garapen dewe, umpat saya dalam hati.

Sangat disayangkan bahwa negosiasi mengenaskan semacam ini acapkali menimpa para freelance writer pemula.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala menanggapinya. Apakah disebabkan minimnya history kerja sama kami yang menjadikan klien-klien berhati dingin seperti ini dengan seenak udelnya mengira bahwa kami bakal melakukan apa saja demi uang, begitu?

Dude, that’s just wrong on many levels.

Yang bikin hati saya semakin pilu adalah kenyataan bahwa saya sendiri pernah merasa malu dan tersinggung karena penawaran-penawaran nggak manusiawi seperti yang dilemparkan oleh Mas Ari.

Apa? Kalian bertanya-tanya bagaimana nasib calon klien yang satu itu?

Tanpa ba-bi-bu, langsung dengan tegas saya katakan “tidak” pada korupsi – eh salah, maksud saya, katakan “tidak” pada kerja sama yang nggak menguntungkan buat saya itu.

Mbak, rejeki itu jangan ditolak. Mubazir lo. Memangnya Mbak yakin bisa dapat pengganti yang lebih baik?

Tentu, kenapa nggak? Saya tahu value saya lebih dari penilaian kacangan seperti itu. Dan lagi, saya percaya jika di luar sana ada orang yang mengerti dengan baik tentang value saya! Jadi, buat apa saya menyesalinya? Sori dori mori nih yeee!

Teringat akan kisah ini, saya terdorong untuk menuliskan siasat saya dalam menyikapi klien yang doyan menawar dengan harga sadis, seperti yang saya praktikkan ketika menolak negosiasi Mas Ari.

Harapan saya adalah setelah membaca ini, semoga teman-teman yang kebetulan baru saja hendak memulai freelance writing dapat menjadikan pengalaman saya sebagai referensi untuk keluar dari permasalahan serupa.

Without further ado, berikut trik saya.

1. Respons permintaan klien dengan hangat dan penuh sopan santun

Menyikapi Klien yang Doyan Menawar dengan Harga Sadis

Mbak, yang realistis aja dong. Mana mungkin saya bisa tenang dan merespons dengan hangat apalagi penuh sopan santun di situasi segenting ini?

Sabar dong Pak, Bu, Mas, Mbak. Saya punya penjelasannya kok. Dengarkan baik-baik, nggih?

Begini, saya yakin jika keramahtamahan mampu menyelamatkan kita dari (nyaris) segala macam situasi. Yang saya maksud dengan ramah di sini bukan berarti bahwa kita seyogyanya diam-diam bae dan menerima apa yang diomongkan orang lain kepada kita.

Bukan, bukan seperti itu. Itu jahat namanya.

Jahat?

Iya, jelas jahat, sebab kita membiarkan orang lain secara nggak langsung merendahkan value kita. Terlebih lagi apabila kita nrimo begitu saja dengan pandangan merendahkan semacam itu. Wah, jahat betul kita terhadap diri sendiri, aseli!

Lalu, tentang menjadi pribadi yang sopan, bukankah itu atribut minimal yang wajib kita punya sebagai seorang pekerja? Di mana pun dan kapan pun, bahkan di dunia freelancing sekalipun, semestinya kita bersikap sopan dalam berkomunikasi dengan siapa saja, nggak terkecuali klien-klien yang ngeselin dan bikin emosi kita meledak-ledak.

Iya, saya tahu. Sulit rasanya mengendalikan diri kalau modelannya macam begitu. Saya juga ngerasain hal yang sama kok hehehe. Namun, ketahui bahwa bersikap sopan dalam menolak tawaran yang merendahkan sejatinya bukan ditujukan ke klien, melainkan kepada kita sendiri.

Dengan merespon penuh sopan santun, sejatinya kita sedang menunjukkan bahwa kita adalah freelancer yang profesional. Nggak peduli se-absurd apapun permintaan klien, we are not going to lose our cool just because of that.

Kalau bahasa kerennya mah “kill ‘em with kindness”, yang aslinya sih di dalam hati kadung misuh-misuh nggak karuan: Sampeyan ini gila atau nggak waras?

Karena kita adalah penulis profesional, sebaiknya sampaikan penolakan kita dengan sesopan mungkin. Daripada sekadar “nggak-deh-makasih”, lebih bagus lagi jika kita mampu mengatakan yang serupa seperti di bawah ini.

“Nggak apa-apa kok Kak, saya bisa paham kalau fee saya di luar jangkauan budget Kakak. Sayang ya, padahal saya tertarik banget lo dengan proyek ini. Yah, mudah-mudahan ke depannya kita bisa bekerja sama di proyek lainnya ya! Sukses terus, Kak!’

Bagaimana? Perbedaannya kentara sekali kan?

Jangan karena orang lain memperlakukan kita dengan sedikit respek sampai-sampai sikap kurang terpuji itu menular kepada kita.

Always, always kill them with kindness, oke?

2. Tahan niatan untuk menguliahi klien

Menyikapi Klien yang Doyan Menawar dengan Harga Sadis

Reaksi pertama saya mendengar penawaran nggak masuk akal dari Mas Ari adalah “wow”. Sungguh, saya ternganga dibuatnya.

Dan reaksi selanjutnya barangkali mudah ditebak: saya kepingin banget berkoar-koar menceramahi Mas Ari, menguliahinya lewat empat halaman esai berbentuk ultimatum yang isinya mengecam keberadaan klien-klien seperti Mas Ari yang sampai hati mengupah kami dengan bayaran semenyedihkan itu.

Tega kamu, Mas! Tega! Yang kamu lakuin itu jahat dan nggak berperikemanusiaan!

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, saya urung melakukannya.

Why?

Pertama, saya punya firasat bahwa Mas Ari sedari awal tidak punya itikad baik untuk mempekerjakan saya. Jadi, bahkan setelah saya kirimkan ultimatum tersebut, saya sangsi Mas Ari bakal peduli dan berjanji supaya nggak mengulangi perbuatannya lagi.

Kedua, saya nggak mau mempertaruhkan nama baik saya demi menanggapi siji ndil klien memusingkan. Buang-buang waktu! Belum lagi dengan rumor yang barangkali akan menyebar setelahnya.

Bagaimana jika Mas Ari bikin thread di Twitter dan mencantumkan username saya, lalu spill tentang kelakukan saya yang menurutnya “lekas naik pitam”-lah, “tidak mencerminkan profesionalitas”-lah, “sok jual mahal”-lah, dsb?

Alamak, bisa habis saya!

Saya tahu ini nggak adil buat kita. Saya tahu.

Tetapi, yah … mau bagaimana lagi? Beginilah realitanya. Di luar sana pastilah ada Mas Ari-Mas Ari lainnya yang doyan menawar dengan harga sadis tanpa memikirkan kesejahteraan freelance writer.

Alhasil, daripada melakukan tindakan bodoh yang berpotensi mengancam reputasi kita, mendingan kita bersabar dan menahan diri. Setuju?

3. Lanjutkan negosiasi dengan ekstra hati-hati

Menyikapi Klien yang Doyan Menawar dengan Harga Sadis

Sebenarnya ini adalah langkah opsional. Saya sendiri biasanya berhenti di tahap sebelumnya. Alasannya sederhana: saya ogah memberikan lebih banyak perhatian daripada yang seharusnya kepada orang-orang yang nggak membutuhkan hehehe.

Jika Anda tidak keberatan untuk meneruskan negosiasi dengan klien (anggaplah kita masih berhadapan dengan Mas Ari) dengan harapan moga-moga Anda dapat melelehkan gunung es di hatinya, maka sebaiknya Anda persiapkan strategi yang matang terlebih dahulu.

Strategi seperti apa yang seharusnya dipersiapkan?

Kita setidaknya sudah menyiapkan rate yang nggak gampang tergoyahkan untuk menghadapi Mas Ari.

Contohnya, tarif jasa kita berkisar antara 100-250 rupiah per kata. Tegaskan kepada klien bahwa rate paling rendah kita adalah seratus rupiah per kata. Supaya makin efektif dalam membujuk klien, perinci apa-apa saja yang klien terima dengan membayar sejumlah nominal yang kita tetapkan.

Apabila setelah melewati proses ini negosiasi di antara kita dan klien masihlah alot, seharusnya itu sudah cukup meyakinkan kita tentang rendahnya minat klien untuk menjalin kerja sama yang baik.

Klien-klien semacam Mas Ari ini, percaya deh, cuma berniat “memeras” kita hingga tetes terakhir. Satu lagi, proses kerja sama ke depannya pun bisa diperkirakan akan jauh dari kata “menyenangkan”.

Mengapa?

Karena kita mengiyakan apa-apa yang sejatinya di luar keinginan kita. Mengerjakannya dengan terpaksa pula. Mana sisi yang menyenangkan dari kerja sama model begini?

Juga, jika Mas Ari masih mendesak dan memohon-mohon supaya kita menerima penawarannya yang tidak layak itu, lekas tolak (ingat, tetap utamakan sopan santun dan keramahtamahan).

Saya ragu kalau mereka-mereka yang doyan menawar dengan harga sadis bahkan tahu bagaimana cara menghargai hasil karya orang lain di kesehariannya.

Kesimpulan

Mas Ari, oh, Mas Ari.

Siapa sangka jika percakapan kita yang singkat itu justru menginspirasi saya untuk menyusun postingan ini? Ada hikmahnya juga ternyata! Walau saya nggak bisa bilang itu adalah pertemuan yang menyenangkan, tapi tetap saya haturkan terima kasih atas hikmah yang bisa saya petik dari kisah ini.

Meskipun saya sedih dan kecewa, namun itu nggak memadamkan kobar semangat di dalam hati saya untuk terus percaya, bahwasannya di luar sana masih ada orang baik yang mengerti bagaimana cara memuliakan freelance writer lewat pemberian upah yang setimpal.

Yah, mudah-mudahan populasi klien-klien semacam Mas Ari berkurang seterusnya, dan tergantikan dengan kehadiran klien-klien yang lebih bijak.

Bagaimana dengan teman-teman? Jika Anda sekiranya di posisi saya, bagaimana cara Anda menyikapi klien yang doyan menawar dengan harga sadis? Apakah Anda juga akan menempuh langkah-langkah yang sama?

Sharing tips Anda ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

17 Komentar

  1. Hapuskan perbudakan!!!
    Hentikan penindasan!
    Hidup Eva!
    Merdeka!!

    Hehe

    Kayaknya aku punya pengalaman yang sama deh, tapi agak beda ding.
    Sama bos lama, diemail karena kinerja bagus dan termasuk valuable team, di cc in ke owner bisnis sama GM pusat di ausie segala, diapresiasi dengan kenaikan beberapa persen gaji yang menurut aku kecil banget.

    akunya nggak mau sampai beberapa kali negosiasi via email, sampai deadlock dan aku tersingkir. Dan pada akhirnya kerjaan yang dulu aku handle sendirian sekarang harus dipegang 5 orang buat gantiin aku.

    Memang kadang orang kurang bisa mengapresiasi kerja keras orang lain. Lupa bila mengapresiasi orang lain maka akan berbalik positif kepada mereka.

    Tapi bersyukur hubungan baik tetap terjaga. Malah kadang bos tersebut ngasih proyek kecil buat dikerjain bareng. Dan owner selalu menyampaikan ucapan terima kasih saat saya membantu proyek tersebut.

    Tipsnya bolehlah,
    boleh hati panas tapi tetap bijak dalam bersikap.

    cheers :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haaaa itu seriusan Grey handle sendirian beban kerja lima orang dulunya? Wah, kayaknya ada sedikit gambaran di benak saya nih betapa gila-gilaannya kerjaan kamu waktu itu ya... Respek!

      Itulah Grey, sebab lainnya kenapa saya nggak menyarankan buat sepenuhnya putus kontak dengan klien-klien rewel. Siapa tahu nantinya mereka berubah pikiran ya toh? Bisa jadi ada hidayah, tahu-tahu udah bosen ngasih fee dikit maunya bayar yang mahal-mahal aja hehehehe :)

      Betul betul betul! *suara a la Ipin* Hati boleh panas tapi kepala tetep harus dingin!

      Cheers to you too!

      Hapus
  2. Mba itu betulan harganya IDR 10.000??? 😱😱😱

    Satu post, mba? Satu artikel? Daebak. Padahal menulis 500-700 kata itu menurut saya sudah susah, sebab rata-rata post saya panjangnya kisaran segitu, dan sukses membuat otak saya keriting hahahahaha. OMG harganya murah banget, masih ditawar pula, kebangetan itu calon client mba 🤧

    Saya belum pernah ada di posisi mba, ditawar begitu, biasanya kalau memang ada kerjasama dan harganya nggak cocok langsung cut sih nggak panjang lebar 😂 Cuma menurut saya, cara mba sudah oke untuk menghadapi para calon clients sadis yang nggak kira-kira kalau menawar. Semoga teman-teman lainnya yang mengalami hal serupa bisa dapat insight dari tips and trik yang mba Eva bagikan 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seriusan Kak Enooooooo makanya saya juga bilang apa, ini orang edan ya nggak mikir juga saya kerjanya pake otak bukan pake dengkul :))

      Huhu keren abis nih Kak Eno, saya kadang masih suka sungkanan gitu lo kalau langsung cut nggak pake panjang lebar. Kebiasaan buruk memang sih, hehe.

      Mudah-mudahan nggak ada korban dari klien semacam ini lagi ya Kak Eno :')

      Hapus
    2. Pertanyaan Kak Eno adalah hal pertama yang terlintas dipikiranku 😂. Nggak nyangka bahwa bayaran penulis lepas semurah itu padahal effort yang dikeluarkan begitu menguras otak dan tenaga 😭. Salut dengan para pejuang penulis lepas macam Kak Eva iniii!

      Anyway, karena aku belum pernah mengalami kejadian ini, jadi jika berandai-andai, mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti yang Kakak lakukan. Menolak secara halusss jika harganya tidak sesuai harapan.

      Semoga fee yang didapat oleh para penulis lepas bisa lebih sebanding lagi ke depannya 😂🙏🏻🙏🏻

      Hapus
    3. Nah itu dia, dan dengan seenak udelnya aja beberapa orang ngira kami bisa ditawar lebih rendah dari itu, huhuhuhu 💔 Harapan saya juga sama seperti Kak Lia, semoga semakin hari semakin meningkat ya kesejahteraan para buruh lepas!

      Hapus
  3. Beneran itu Eva hanya IDR 10 ribu per satu artikel 500-700 kata? Masih ditawar lagi.

    Tapi, saya setuju dengan yang Eva lakukan karena walau saya sendiri tidak mengelola blog secara bisnis seratus persen, saya masih memberikan lebih daripada itu.

    Tetap semangat ya Eva?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beneran, Mas Anton, ciyus, nggak pake bo'ong deh! Saya masih ada chat-nya di platform itu, malahan :") Itu dia, Mas, jadinya saya sekarang kalau mau nawar beli apa-apa kepikiran peristiwa ini, sebisa mungkin menerapkan prinsip "if I were in their shoes" sebelum menawar :D Huwaaa, terima kasih banyak, Mas Anton!

      Hapus
  4. 500 kata itu 10 ribu Rupiah harganya? Udah gitu masih nawar lagi. Sungguh amat sangat keterlaluan sekali.


    Setuju banget dengan pendapat Kak Eva tentang menolak tawaran klien yang menawar harga dengan sangat amat keterlaluan melalui cara yang sopan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, ya begitulah Kak :) Maunya yang hasilnya bagus tapi harga murahan, kan agak-agak gimana gitu ya hahahaha. Iya kan, Kak? Walaupun amarah di hati bergejolak tapi gimanapun juga tetap harus profesional menanggapi klien :D

      Hapus
  5. Hallo Mbak Eva,bolehkah kami meminta alamat email yang bisa dihubungi ? kami membutuhkan jasa penulis dan tentunya harga yang kami tawarkan tidak semurah meriah ala Mas Ari yah, :)

    Siapa tahu kita cocok untuk bekerjasama.
    Kami tunggu responnya sampai tanggal 13/01/2021 pukul 21.00 WIB.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halo, Kak. Terima kasih atas ketertarikannya. Saya bisa dihubungi via email seperti yang tercantum di laman "Tentang" blog ini, ya.

      Hapus
    2. Hallo Mbak, Kami tidak bisa melihat email di laman yang Mbak maksudkan. Jika Mbak tidak keberatan mohon tulis email di kolom komentar ini saja. Biar bisa kami hubungi .Terima kasih.

      Hapus
    3. Email saya rrussilahiba@gmail.com, ya :)

      Hapus
  6. Speechless.....

    Aku memang ga tau harga tulisan blogger di luaran, Krn slama ini ga prnh memonetisasi blogku. Tapi denger harga 10 RB aja menurutku udah amat sangat kemurahan, apalagi tulisan mba bagus, enak dibaca, rapi pula.

    Dan dia msh nawar jd 5 RIBU?????

    Aku salut mba masih bisa sopan menolaknya .. Ntahlaaah, ga pernah respek Ama orang yg sangaaaat ga menghargai usaha penulis. Dikira menulis itu kerjaan gampang. Kalo memang mereka anggab begitu, kerjain aja sendiri. Ga usah repot2 bayar blogger kalo cuma mampu segitu.

    Semangaaaat mba.. aku yakin mba akan dpt tawaran2 lain yg jauuuuh lebih manusiawi dan sesuai Ama kualitas tulisan mba Eva ;) . Lupakan memang orang2 seperti mas Ari itu :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak Fanny. Heran ya kok masih ada orang-orang yang seperti itu? Terima kasih, Kak, saya juga bersyukur karena akhir-akhir ini sudah dijauhkan dari klien-klien yang hobinya nawar-nawar dengan harga nggak masuk akal :D

      Hapus
  7. sepuluh ribuuuuu, huhuhuhu...
    Nulis itu butuh waktu, tenaga, otak ya mikir.

    Astagaaa 10ribu.
    Dan masih ditawar!

    Tapi thanks tulisan ini bikin saya bersyukur lebih banyak, karena dari dulu saya tuh sering dapat tawaran menulis di website kayak ghost writer gitu, tapi saya malas.

    Sebagai mamak-mamak beranak 2 dan sendiri urus anak, saya belum siap bekerja sama dengan waktu yang kudu presisi setiap saat.

    Saat ini yang paling pas ya nulis di blog sendiri, membangun blog sendiri, dan terus membackup semua karya saya, karena tulisan itu bakalan jadi kayak modal buat memperbesar blog lagi :)

    BalasHapus

Back to Top