Ketika Writer Block Melanda, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Satu hal yang belum pernah saya lakukan sejak hari pertama ngeblog di Berkas Narasi adalah menyapa pembaca di setiap awal postingan (seperti yang rutin dilakukan oleh Mas Anton di Maniak Menulis, hihi), tapi kesempatan kali ini akan menjadi yang pertama buat saya.

Halo, pembaca Berkas Narasi yang baik dan budiman (aduh, gimana caranya Mas Anton dan blogger lainnya menyapa pengunjung blog mereka secara natural, ya? Kayaknya saya kudu berguru nih, hiks).

Begini, kemarin saya membolos sehari dari rencana saya untuk ngeblog setiap hari.

Jika ada yang bertanya “mengapa”, jawabannya sederhana saja: sakit punggung saya kumat, dan karena sekadar minum obat kurang ampuh untuk meredakan nyerinya, saya terpaksa off sehari dan beristirahat.

Ini sungguhan lo, bukannya saya nyari-nyari alasan, haha!

Walau ceritanya saya harus libur dan rehat supaya nyerinya berkurang, otak saya nggak bisa diam memikirkan topik apa yang sebaiknya saya ulas di postingan berikutnya.

Dan, seperti judul yang telah Anda baca di atas, pilihan saya jatuh pada “tips mengatasi writer block bagi freelance writer”.

Mengapa writer block?

Selama dua tahun ini, ada saat-saat ketika saya menyia-nyiakan waktu demi memelototi layar laptop selama nyaris bermenit-menit lamanya, tetapi sayangnya, kata-kata yang ingin saya curahkan nggak mampu terpikirkan. Sama sekali.

Di lain waktu, saya bahkan enggan untuk bangun dari kasur dan segera memulai hari untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk. Bayangan bahwa saya harus menulis lagi di hari itu untuk menyambung hidup membuat saya lelah seketika.

Sungguh! Rasanya seolah-olah “menulis” telah menjelma menjadi momok yang ngeri banget buat saya!

Apakah di antara teman-teman ada yang pernah ngerasain sesuatu semacam ini juga? Jika iya, kemungkinan besar apa yang Anda alami itu adalah writer block. Saya dan Anda sama-sama dilanda sejenis “penyakit” yang menjengkelkan.

Ngomong-ngomong, daritadi ngomongin writer block terus, tapi writer block itu sendiri sebenarnya apa sih?

Writer itu penulis, block itu halangan. Jadi, secara literal, writer block itu halangan penulis, ya? Begitu?

Lumayan, tapi kalau diperhalus kira-kira artinya begini nih: writer block adalah suatu keadaan/kondisi di mana seseorang mengalami masa-masa sulit untuk menulis, padahal kegiatan itu sendiri sebelumnya merupakan hal yang tergolong mudah diperbuat oleh si penanggung ybs.

Apa penyebab writer block?

Kalau mengamati saya sendiri sih, seringnya saya ngerasa stuck saat menulis karena saya merasa kekurangan ide atau nggak termotivasi untuk menulis, bahkan jika motivasinya adalah uang sekalipun, haha. Ujung-ujungnya, saya angkat tangan dan balik lagi terbaring di kasur, membiarkan waktu berlalu begitu saja sambil nge-scroll layar hape tanpa henti.

Miris, ya? Bukannya menyemangati diri sendiri supaya produktif, saya malah keok dan menyerah tanpa perlawanan.

Meskipun begitu, saya yakin nggak ada satupun dari kita yang kebal dari writer block. Bukan cuma freelance writer, mulai dari penulis novel sampai blogger sekalipun, rasa-rasanya hampir semuanya pernah terjebak di permasalahan yang sama, deh!

Malahan, tiap-tiap yang bekerja di bidang kreatif seenggaknya tentu pernah merasakan yang namanya buntu dan kepepet sekali seumur hidup. Entah itu writer block kek atau creative block kek¸ kesulitan ini membayangi kita dari waktu ke waktu.

Saya percaya teman-teman pastinya memiliki trik dan kiat andalan masing-masing untuk menaklukkan writer block, tapi cara yang saya terapkan ini naga-naganya ialah cara paling sederhana untuk mengatasi writer block (buat saya).

Bahkan, tingkat keberhasilannya pun mencapai 99%!

Sayangnya, meskipun ini adalah trik paling basic yang bisa diterapkan, ini justru trik tersusah dari segala trik yang ada (lagi-lagi menurut saya).

Apa sih rahasianya?

Jadi, menurut saya, ketika writer block melanda, yang sebaiknya dilakukan freelance writer adalah…

Just start writing.

Tunggu, tunggu, gimana ya, Mbak? Kan jelas-jelas saya lagi nggak bersemangat menulis nih, kok saya malah disuruh nulis aja? Ini sebenernya niat ngasih masukan atau nggak?

Aduh, aduh, iya saya tahu. Kedengarannya saya sekarang cuma main-main demi memenuhi goal ngeblog setiap hari, kan? Apapun boleh jadi asal rutin ngonten, kan?

Nggak, saya nggak bo’ong. Ini betulan.

Saya menyadari bahwa terkadang, faktor terbesar yang menyebabkan timbulnya writer block adalah kecemasan saya yang kelewat berlebihan akan sesuatu.

Sesuatu seperti apa?

Banyak.

Terkadang, saya khawatir kalau-kalau saya nggak sanggup merampungkan tulisan saya sebelum deadline yang diberikan.

Nggak jarang pula saya gelisah-galau-merana kalau-kalau kerjaan saya bakal direvisi habis-habisan oleh klien.

Eh, padahal nih, semua ini belum tentu kejadian lo! Ini masih di pikiran aja, bayang-bayang semata, tapi efeknya luar biasa fatal buat saya.

Tahukah Anda? Kecemasan yang berlebih adalah musuh terbesar kita. Yup, saya dan Anda.

Mengapa begitu? Karena pemikiran negatif seperti ini perlahan-lahan dapat menghancurkan kita dari dalam, merusak pikiran kita, menghapus bersih jejak kebahagiaan dari diri kita, dan yang terparah yaitu meyakinkan kita bahwa khayalan-khayalan yang sejatinya cuma ada di benak kita itu adalah kenyataan.

Ngeri nggak tuh?

Sebagai orang-orang yang bekerja di industri kreatif, acapkali kita bertindak terlalu keras pada diri kita sendiri.

Belum apa-apa udah mikir yang nggak-nggak.

“Aduh, kalau Bu A nggak suka caption kayak gini gimana, ya?”

“Hmmm, kira-kira kalimat pembukanya udah pas belum, ya? Ah, ganti deh, kayaknya kurang natural nih, kurang masuk!”

Yaelah, kalau gitu terus kapan nulisnya dooong?

Kita terlalu terpaku dengan yang namanya “kesempurnaan”, nyatanya di dunia ini sendiri nggak ada yang diciptakan sempurna. Semakin direnungkan, semakin menyusut hasrat kita untuk menulis. Akibatnya, keinginan kita untuk memulai pun melemah.

Bukan hal yang mustahil jika akhirnya kita nggak berniat untuk menulis sama sekali, bahkan.

Dan untuk alasan inilah sebabnya mengapa saya sekuat tenaga mendesak diri sendiri untuk ndang mulai ketimbang kebanyakan mikir di awal.

Apapun itu, pokoknya mulai aja. Biarkan ide-ide yang bercokol di benak kita tumpah di atas kertas (jendela aktif Word).

Jangan coba-coba menghalanginya.

Nggak peduli seberapa jelek tulisan kita, se-absurd apapun hasilnya nanti, yang terpenting adalah fakta bahwa kita sudah mengambil langkah pertama itu.

Toh zaman sudah modern, peralatan yang kita gunakan canggih-canggih pula. Pekerjaan sesederhana “mengedit” bukanlah perkara sulit lagi, nggak seperti pendahulu kita yang terpaksa berkutat dengan mesin tik, hihi!

Seiring waktu, draft awal yang mungkin jeleknya nggak karuan bak si itik buruk rupa itu akan kita perbaiki dan berevolusi menjadi angsa cantik.

Jika kita enggan memulai, kita nggak bakal dapat apa-apa. Ho-oh, bahkan draft awal asal-asalan pun nggak bakal kita dapatkan.

Beda halnya jika kita menekan diri sendiri untuk mengambil langkah pertama itu.

Tanpa disadari, yang mulanya hanya bertekad untuk menulis beberapa kalimat saja berubah menjadi keinginan untuk menyelesaikan satu-dua paragraf. Eh, tahu-tahu satu artikel terselesaikan begitu saja!

Keren bukan?

Ingat mantranya: just start writing.

Kalau kurang akrab di telinga, bolehlah ditukar dengan “just do it”-nya Nike. Esensinya sama, sama-sama mendorong kita supaya terbebas dari perangkap writer block yang melemahkan.

Sekarang giliran Anda untuk berbagi. Pernahkah Anda mengalami writer block? Kalau iya, langkah apa yang biasanya Anda terapkan untuk mengusirnya jauh-jauh?

Sharing tips ampuh Anda ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

16 Komentar

  1. Biasanya yang aku lakukan saat Writer's block melanda adalah blogwalking, setelah blogwalking sering dapat ide untuk menulis lagi hahaha. Tapi memang, rasa malas itu sungguh harus dipatahkan jika ingin kembali menulis hahahaha. Aku suka salut dengan orang-orang yang bisa menulis setiap hari karena aku belum sampai ke tahap sana >.<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah kenapa kalau blogwalking saya justru makin down nih, Kak Lia. Malah ngebodoh-bodohin diri sendiri karena minder, orang-orang ini kok ya bisa aja blogging tiap hari tapi saya enggak :D Padahal ya yang harus dipertanyakan itu kemalasannya diri sendiri, hehehehe.

      Tos deh, Kak Lia, kita samaan! Ada aja ya halangan buat ngeblog setiap hari :'(

      Hapus
  2. Menurut saya, tips mba Eva sudah paling ampuh 😂 Hehehehe, kombinasi antara just start writing (or just do it) dan tips dari mas Anton yang baru dibahas pada post terbarunya (berpikir kecil) sudah lebih cukup untuk membuat kita bisa lepas dari moment writer block 😍

    Saya pribadi jarang mengalami writer block mba, lebih seringnya malas saja (dulu sih, sekarang sudah tobat hahahaha), meski bisa dibilang, persoalan ide selalu ada setiap saya ingin menulis, mungkin karena mostly tulisan saya hanya cerita keseharian 🙈

    Akan lain cerita jika topik yang saya angkat berat seperti topik mba Eva, mungkin saya akan mengalami writer block setiap saat 🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga baca postingan Mas Anton soal berpikir kecil itu, Kak Eno. "Wah, kok bisa ya kepikiran sampai ke sana?" pikir saya. Saya jadi heran, apa perlu pinjam kaca matanya orang lain biar perspektifnya beda ya? Hehehehe :D

      Tukeran dong Kak Eno! Saya kepingin juga nih jauh-jauh dari writer block! :') Oalah, kok justru berkebalikan begini ya, saya malah mikirnya daily life saya itu mbosenin. Kalau ditumpahkan ke blog kira-kira siapa ya yang bakal baca? :(

      Hapus
  3. Salam kenal kak Eva,

    Saya senang ada tulisan tentang hal ini tapi ngga bahas teori, tapi langsung eksekusi. Karena pada hakikatnya, cara untuk menulis yah menulis. Perkara jelek, itu urusan belakang. Kalo kata Hemingway: "first draft of anything is shit."

    Jadi kadang saya numpuk tulisan didraf dulu, kalo mau publish baru saya edit ulang. Itu kalo tips apa yang dilakunan saat writers block. Kalo tips mengatasi, yah paling gampang jangan nulis dulu. Apalagi kalo tidak ada tekanan apa-apa, siapa-siapa. Dengerin musik, nonton film, baca buku, atau sekadar jalan-jalan di sekitar rumah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masukan yang bagus, Kak Rahul :) Kalau memang sedang senggang, dan bukan tugas penting semacam skripsi, misalnya, nggak ada salahnya menunda menulis dulu.

      Terima kasih sudah mampir ke blog saya, ya :D

      Hapus
  4. Mungkin karena aku membuat blog hanya utk having fun dan menyalurkan hobi, jd sbnrnya ga ada tekanan samasekali dari situ. Ditambah lagi blog ku punya Niche khusus traveling dan kuliner, so, tiap kali aku kekurangan ide menulis, aku hanya tinggal jalan keluar ato nyobain kuliner baru, yg mana bisa utk bahan blogku mba :D.

    Makany kalo dibilang write's Block, rasanyaaaa aku ga ngalamin. Yg sering itu males doang hahahahaha. Eh tapi Alhamdulillah yaa sejak resign aku bisa LBH fokus dan konsisten update blog.kalo dulukan terhalang Ama kerjaan kantor kadang kala . Skr yaaa ga ada alasan Krn itu ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, jadi pengaruh dari niche blog besar juga ya, insight yang bagus nih Kak Fanny, saya justru baru ngeh lo. Huhu, saya ngerasain banget nih, hasrat blogging berbenturan dengan kewajiban buat kerja dari rumah. Alhasil kudu pintar membagi waktu!

      Hapus
  5. Blogwalking blogwalking abs itu ketiduran

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha semoga bangun tidur langsung keingetan buat ngeblog ya, Kak :)

      Hapus
  6. hihihi betul sekali, sebenarnya yang dibutuhkan itu hanyalah lompatan pertama melewati writer block itu, lalu menjadikannya habbit.

    Pokoknya just write, mau dibilang cuman agar memenuhi kudu nulis, nggak masalah.
    Ada gunanya juga kok, even kita cuman post 200-300 kata, setidaknya itu membangun kebiasaan, dan lama-lama bakalan mengalir dengan mudah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak Rey. Kalau nggak memberanikan diri buat ambil "the first leap" itu kayaknya nggak bakal nulis sampai kapanpun sih saya :D Awalnya susah, tapi seperti kata Kak Rey, lama-kelamaan akhirnya juga bisa!

      Hapus
  7. Pasti pernah. Disadari atau tidak, diceritakan atau tidak semua penulis pastti akan pernah mengalaminya.Itu adalah bagian dari kehidupan manusia-manusia yang berprofesi atau suka menulis.

    Bagaimanapun kita manusia. Punya sisi kelemahan juga.

    Saya cuma punya satu sistem utama, menulis saja terus. Kadang berhasil kadang tidak, kadang block berhasil diterobos, kadang saya yang terjengkang.

    Saya tidak bisa memastikan bahwa sistem paksakan menulis bisa selalu berhasil, tetapi bagi diri saya sendiri 80-90% hambatan itu bisa diatasi. Meski tidak jarang juga saya pilih menonton TV dan santai karena tergantung penilaian saya tentang penyebab writer's block sendiri. Kadang rasa capek bisa menjadi penyebabnya. Kalau dipaksakan menulis pun percuma karena energinya sudah tidak ada.

    Jadi, saya pikir, saya biasanya menilai dulu situasinya, baru setelah itu saya putuskan untuk memaksa diri atau beristirahat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kondisi masing-masing orang nggak sama ya, Mas, mesti dikembalikan ke penilaian sendiri-sendiri apakah paksaan itu bakal efektif atau justru melemahkan niat :D

      Hahahaha kalau energinya sudah nggak ada ya tidur atuh... Besok boleh dilanjut lagi!

      Hapus
  8. Selamat atas hadirnya berkasnarasi.com nya,

    glad you are back,
    dimasa banyak yang mulai jarang menulis lagi.

    Semangat dan terus menulis ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Grey! Glad to see you again! :D It takes much for me to be around, but I'll try to be as productive and active in blogging as I can. Tunggu tulisan-tulisan aku yang selanjutnya juga, & semangat ngeblognya buat kamu juga!

      Hapus

Back to Top