Duka Kerja Freelance: Pengalaman Saya Jadi Freelance Writer Selama Dua Tahun

Duka Kerja Freelance

Ketika mendengar kata “kerja lepas” atau “freelance”, sepertinya mayoritas orang di masyarakat kita membayangkan tentang: 1) jam kerjanya yang fleksibel, 2) tempat kerjanya yang fleksibel, dan 3) pemasukannya yang tidak terbatas.

Tapi, apa benar hanya itu saja hal-hal yang umumnya dimiliki freelance writer? Ah, nyatanya nggak juga tuh!

Selayaknya pekerjaan lainnya di muka bumi, menjadi pekerja lepas bukan berarti saya hanya mengalami hal yang baik-baik aja. Tidak terhitung berapa banyak duka yang telah saya terima pula sejak menekuni usaha ini dua tahun yang lalu.

Dan, di kesempatan kali ini, saya kepingin membagikan apa aja sih dukanya kerja freelance kepada teman-teman yang sekiranya masih awam dengan industri ini. Nah, akan lebih bagus lagi jika Anda menjadikan ini sebagai pertimbangan sebelum resign dari pekerjaan tetap Anda saat ini dan memutuskan untuk nyemplung ke dunia freelancing seratus persen.

Khawatirnya, freelancing jauh dari harapan dan bayangan Anda! Ingat, sesal kemudian tiada arti lo.

Jadi, apa saja duka kerja freelance menurut Eva, si penulis lepas dengan 2 tahun pengalaman freelance writing?

1. Menerima pandangan miring dari orang sekitar

Oh, Mbak Eva sudah lulus kuliah? Sekarang kerja di mana?
Seringkali saya mendengar pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Di tahun pertama saya mengawali karier saya, saya nggak malu-malu menjawab, “Jadi penulis lepas, Bu,” yang segera ditanggapi dengan “oh” singkat dan tatapan menilai.

Memangnya kalau jadi penulis lepas itu gimana? Gajinya berapa? Kan lulusan universitas terkenal, kok nggak ngelamar kerjaan yang lain? Sayang lo gelarnya.

Dan komentar-komentar semacam ini nggak cuma satu-dua kali saya dengar. Kayaknya udah berkali-kali sampai saya kebal deh, meresponnya pun cukup dengan masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Susahnya, di Indonesia memang saya rasa pekerjaan yang satu ini masih belum beken di kalangan umum. Yah, boro-boro masuk top list job idaman mertua, sepertinya masih jauh lah dari harapan! Kebanyakan mengira freelancer tuh cuma ongkang-ongkang kaki dari rumah dapat duit, nggak ada classy-nya sama sekali, begitu mungkin ya?

Ya elah, bu, saya juga mau atuh kalau duduk manis di depan laptop berjam-jam otomatis digaji. Realitanya nggak seindah itu, bro!

Freelance writer pasti pernah mengalami yang namanya sikut kanan sikut kiri demi ngelamar proyek, belum lagi kalau ketemu klien-klien berhati dingin yang hobinya ngasih tugas seabrek dengan bayaran miris, atau ketika banyak tagihan yang mesti dilunasi tapi sepi job… Tuh, banyak kan tantangannya?

Dan lagi, menulis sendiri pun bukan pekerjaan yang remeh lo, Say! Andaikata menulis itu gampang, saya yakin deh masing-masing penduduk di Indonesia ini pastilah nilai kemampuan menulisnya di jaman sekolah dulu nggak pernah jauh-jauh dari angka seratus.

Nyatanya, menulis itu susah, apalagi kalau si tukang nulis punya nol pengetahuan soal apa yang mau ditulisnya. Alhasil, melakukan riset kecil-kecilan jadi santapan tiap hari. Bersyukur banget nih kalau tema yang mau ditulis sederhana, sumbernya gampang dicari. Lah, apa kabar dengan topik-topik yang bikin kepala pusing tujuh keliling? Mau nangis aja rasanya.

Walau begitu, saya akui bahwa pekerjaan ini tidak glamor sama sekali, apa lagi kalau pembandingnya adalah profesi-profesi “mainstream” seperti dokter, polisi, guru, dsb. Orang-orang yang belum melek akan meningkatnya demand penulis di industri kreatif sepertinya masih buta soal keberadaan kami.

Resikonya ya begitulah, kami pun acapkali diremehkan dan dipandang sebelah mata.

Kalau sudah begitu, bagaimana lazimnya saya menanggapi komentar-komentar yang nggak mengenakkan hati seperti itu? Saya hanya diam dan tersenyum, sambil diam-diam membatin di dalam hati bahwa pandangan miring tersebut timbulnya dari ketidaktahuan semata saja.

Jika sedang mood, saya beri gambaran singkat kepada si penanya tentang bagaimana dan seperti apa kerja freelance itu. Meski nggak setiap orang memberikan respon yang positif, tapi seenggaknya saya telah menunaikan kewajiban saya untuk menghapus ketidaktahuan itu dari orang lain, begitcu cyin.

Malah, dengan mendengar statement negatif seperti itu, saya justru jadi makin tertantang untuk mempopulerkan pekerjaan yang sudah saya tekuni selama dua tahun ini. Waktu berlalu, bumi terus berputar, dan jaman pun akan selalu berubah. Apa yang kita kira jelek kemarin belum tentu kondisinya sama besok.

Jadi, usah dimasukkan ke dalam hati komentar-komentar yang nggak konstruktif, ketimbang bikin sakit hati lo!

2. Sering merasa cemas dan was-was terhadap keajegan karier

Nggak seperti kerja kantoran yang terarah “mau dibawa ke mana” prospeknya, pekerja lepas acapkali dibayang-bayangi dengan ketakutan kalau-kalau besok kami kehilangan klien-klien yang selama ini mempercayai jasa kami.

Sedari awal hingga sekarang saya bekerja lepas, saya telah bekerja untuk banyak klien, mulai dari yang sifatnya hanyalah proyek tunggal sampai yang berkelanjutan hingga berbulan-bulan lamanya.

Saya bersyukur banget apabila klien menawarkan kerja sama lagi untuk proyek-proyek yang akan datang. Ini sih namanya rejeki nomplok! Berkatnya, saya nggak perlu menghabiskan banyak waktu demi mencari klien baru yang itu pun belum pasti apakah saya bakal direkrut atau nggak.

Di samping itu, bekerja untuk klien yang telah kita kenal sebelumnya juga menawarkan kenyamanan lainnya, contohnya, kita nggak perlu pusing-pusing lagi tuh menyesuaikan dengan gaya komunikasi atau workflow si bos. Karena kita telah terbiasa bekerja di bawah pimpinannya, kita mengetahui dengan pasti apa yang dimau dan dikehendaki oleh klien.

Yang bikin sedih adalah kenyamanan ini nggak selalu terjamin bagi freelancer. Every day feels like a constant war for us. Kami kudu membiasakan diri untuk beradaptasi dengan cepat dengan perubahan lingkungan kerja yang cepat.

Jika kami gagal, maka kami sendiri yang akan tersingkir dari persaingan. Dan sekali saja kami jatuh, sulit untuk merangkak kembali ke atas, misalnya, ketika kita dicap tidak professional secara sepihak dalam meng-handle klien. Omongan-omongan bernada miring itu bisa dengan cepat beredar dari satu orang ke orang lainnya. Akibatnya, reputasi diri yang dipertaruhkan.

Selain itu, nggak tiap hari ada perusahaan atau organisasi yang butuh penulis lepas. Sepi job merupakan salah satu dari sekian banyaknya ketakutan yang menghantui para freelancer di tidurnya.

Saya rasa realita yang kejam ini pasti terjadi di dunia kerja terlepas dari apapun profesi yang digeluti. Namun, pegawai-pegawai tetap maupun kontrak di perusahaan sepertinya boleh lega karena mereka nggak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti ini setiap hari.

Inilah sebabnya mengapa saya jarang sekali merekomendasikan teman-teman saya untuk menjajal freelancing sebagai pekerjaan full-time.

Mengapa?

Ya seperti apa yang telah saya jabarkan tadi, siapa yang tahu pasti bagaimana nasib kita besok? Apabila mereka tipe orang yang nggak terbiasa menyikapi perubahan, freelancing nampaknya bukanlah jenis mata pencaharian yang cocok buat mereka.

Lebih baik test the water dulu dengan menjadikan freelance sebagai part-time job. Jika dirasa sudah mampu menguasai ritmenya, boleh deh resign dan terjun sepenuhnya ke dalam karier ini.

3. Konsentrasi bekerja selalu diuji

Enak banget ya Mbak Eva, bisa kerja dari rumah 24/7. Iri deh!

Saya senang-senang aja kerja dari rumah setiap saat: saya nggak perlu riweuh memikirkan kudu pakai baju apa besok, buru-buru bangun pagi dan dandan, atau merasakan stres akibat bermacet-macet ria di jalanan.

Kerja dari rumah itu enak, tapi…

Iya, ada tapinya! Justru karena kerja dari rumah, saya malah susah fokus ngerjain proyek-proyek saya. Wah, ada aja deh rintangannya!

Distraction yang menggoda itu nggak henti-hentinya membujuk saya buat bangkit dari kursi dan melalaikan tanggung jawab saya. Sebut saja nonton YouTube, tidur-tiduran di kasur, atau sekadar main bareng kucing peliharaan tetangga.

Eh, distraction yang sifatnya nggak menggoda malahan lebih banyak lagi lo, dan lebih nyebelin! Saya sampai suka heran, ini orang-orang nggak ada yang ngerti apa saya lagi kerja?

Iya, saya lagi banting tulang cari duit nih, bukannya duduk-duduk nggak jelas di depan PC (bapak-ibu saya malahan mengira saya seharian main game doang, hahaha). Jadi plis dong nyuruh saya ke warungnya nanti aja, oke? Atau tolong bantuin angkat jemurannya semisal turun hujan, ya! Saya ada deadline penting jam empat nanti!

Yah, walaupun saya bersusah-payah memberitahukan ke seluruh orang rumah tentang the nature of my job sampai nyaris berbusa rasanya mulut saya, tetap saja itu dirasa kurang mempan.

Hmm, nasib awak sepertinya!

Padahal, saat konsentrasi pecah atau buyar karena sesuatu hal itu rasanya nggak enak banget, gengs. Balik-balik dari dapur selesai cuci piring, ingatan saya kacau dan saya kehilangan momentum untuk menuangkan hasil pikiran yang sempat terbersit di benak saya sebelumnya.

Nah, inilah sebabnya mengapa freelance writer (dan pekerja lepas pada umumnya) dituntut untuk piawai mengatur waktu dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar tentang pekerjaan kita.

Semisal klien meminta file siap di-draft pukul empat, alangkah baiknya kita menuntaskan tugas-tugas rumah tangga lainnya sebelum itu. Dengan demikian, kita dapat sepenuhnya memusatkan perhatian ke pekerjaan itu. Selanjutnya, kita harus sanggup bersikap tegas baik terhadap diri sendiri atau orang lain pula.

Namun, andaikata itu semua nggak memungkinkan (contohnya: A adalah orang tua tunggal yang mesti bekerja dan mengurus anak di waktu yang bersamaan), maka mengoptimalkan kemampuan untuk multi-tasking adalah langkah krusial yang A harus ambil untuk mengurangi adanya risiko-risiko yang tidak diharapkan.

Dilihat dari sisi baiknya, mau nggak mau kemampuan multi-tasking kita jadi terasah. Oke juga kan? Hihihi, anggap saja begitu!

4. Rentan terhadap kesepian

Mereka-mereka yang extrovert nampaknya perlu pikir-pikir lagi sebelum berkomitmen mengambil pekerjaan ini. Pasalnya, kerja lepas itu termasuk jenis usaha yang dikerjakan perseorangan. Ini nggak seperti kerja kantoran sebagaimana lazimnya yang menuntut kinerja tim.

Apabila Anda tidak keberatan dengan sistem bekerja yang seperti itu, maka duka kerja freelance yang satu ini semestinya usah Anda risaukan.

Saya justru senang diberikan keleluasaan untuk menyempurnakan pekerjaan saya seorang diri tanpa melewati serangkaian diskusi dengan rekan kerja saya terlebih dahulu. But it comes with a cost. Akibatnya, kemampuan sosial saya jadi tumpul lantaran jarang digunakan. Miris ya?

Di samping itu, buat mereka yang nggak betah seharian berkutat dengan pekerjaan itu-itu saja seorang diri, ini boleh jadi sumber stres yang berisiko lo. Orang-orang semacam ini perlu berinteraksi dengan orang lain untuk mendapatkan kepuasan dari pekerjaannya.

Baru-baru ini, teman saya (sebut saja si Eneng) yang sehari-harinya bekerja lepas di bidang data entry curhat. Singkat cerita, si Eneng baru saja menerima hasil konsultasinya dengan psikiater. Menurut dokter tersebut, alasan di balik lesu dan lemahnya fisik Eneng berbulan-bulan ke belakang adalah karena dia nggak bahagia menjalani pekerjaannya tersebut.

Sebelum pandemi melanda, Eneng merupakan tutor di salah satu lembaga bimbel populer di kotanya. Namun, sejak PSBB diberlakukan, lembaga tersebut pun ditutup dan Eneng “dirumahkan” untuk sementara waktu. Guna mengisi kekosongan waktu (dan tuntutan ekonomi supaya perut selalu terisi), Eneng pun melamar job entri data.

Tapi, Eneng yang awalnya jarang sakit-sakitan, jadi mudah lelah dan lesu begitu memulai pekerjaan barunya itu. Bukan main terkejutnya saya saat mendengar tentang pemeriksaan itu dari Eneng. Duh, rupanya dampaknya bisa sefatal itu bagi kesehatan mentalnya! Saya turut prihatin.

Nah, alangkah baiknya bagi teman-teman yang berniat untuk menjajal kerja freelancing di tahun 2021 untuk bertanya ke diri sendiri: apa saya bakal cocok dengan karakteristik dari pekerjaan ini?

Jangan sampai diri sendiri yang dikorbankan karena ketidakpedulian kita, bisa berakibat fatal lo, baik untuk kesehatan psikis dan fisik dalam jangka panjang.

5. Dituntut untuk serba siap setiap saat

Nggak seluruh klien mengharapkan kita untuk stand-by 24 jam, but rata-rata mereka menuntut kita untuk sigap merespon pesan-pesan yang mereka sampaikan. Telat sedikit saja, siap-siap menerima cap “tidak profesional" dan komplain dari mereka!

Kejam amat? Hehehe, saya sudah tekankan kondisi ini tidak pukul rata ke semua klien, namun itu tidak menutup peluang adanya populasi-populasi yang menyebalkan semacam itu.

Tapi, itu semua bisa didiskusikan lagi dengan ybs. Barangkali kita perlu menentukan kembali jam kerja yang disepakati bersama. Dengan begitu, klien terbebas dari cemas dan was-was andaikata freelance writer sekonyong-konyong kabur atau lepas tanggung jawab tanpa pemberitahuan.

Di sisi lain, kita diuntungkan pula dengan minimnya gangguan-gangguan di jam-jam personal.

6. Penghasilan yang fluktuatif

Ha… sepertinya untuk poin duka kerja freelance yang satu ini nggak perlu saya perinci deh. Di beberapa poin sebelumnya sudah saya singgung sedikit-sedikit tentang ketidakpastian di dalam bekerja lepas.

Ada hari di mana banyak perusahaan/organisasi yang membutuhkan jasa kami, ada pula hari di mana barang satu proyek sekalipun sulit ditemukan! Barangkali inilah sebabnya mengapa saya kepayahan sekali dalam menyusun anggaran rumah tangga. Habisnya, siapa yang tahu kapan tiba-tiba sumber penghasilan itu surut? Semuanya serba tidak terduga!

Siasat saya untuk menghadapi situasi yang berubah-ubah ini yakni dengan tidak sembarangan membelanjakan uang untuk hal yang nggak berguna di masa-masa “emas”. Saya kudu pandai mengingatkan diri bahwa hari esok siapa yang tahu, apakah saya akan berada di atas atau di bawah.

Syukur-syukur kalau masih ada sisa emergency fund untuk menghadapi situasi tidak terduga di kala sepi job, bagaimana kalau yang terjadi justru sebaliknya? Bahaya tuh!

Bagi freelancer, “sedia payung sebelum hujan” adalah peribahasa yang wajib senantiasa diingat untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diharapkan!

Kesimpulan

Apapun itu pekerjaannya, tetap ada sisi positif dan negatif yang bisa dipelajari darinya, tak terkecuali bekerja lepas atau freelancing.

Daripada terfokus seutuhnya pada duka-dukanya, saya mencoba untuk melihat suka yang telah saya peroleh dari karier ini. Berkatnya, saya jadi tahu peluang bekerja baru yang teman-teman saya nggak ketahui sebelumnya.

Saya juga berkenalan dengan orang-orang baru yang menginspirasi yang telah berkecimpung di industri ini lebih dulu dari saya. Terima kasih kepada mereka yang mengajari saya banyak hal-hal baru, mulai dari gimana cara menjaga keseimbangan antara work dan personal life, mengatasi klien rewel, berbagi ilmu tentang hal-hal teknis seputar keahlian menulis, dan masih banyak lagi lainnya!

Dengan mengingat hal-hal yang baik inilah mudah-mudahan saya bakal dijauhkan dari penyakit hati yang membahayakan tekad saya untuk bekerja sebaik mungkin!

Untuk teman-teman yang sekarang juga tengah menjalani rutinitas sebagai freelancer, apa duka kerja freelance yang selama ini kalian alami? Bagaimana siasat Anda menghadapi duka tersebut?

Sharing pengalaman Anda ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

8 Komentar

  1. Kalau kerja sampingan disebut freelance juga bukan sih?? Sepertinya nggak.. 😙

    Saya sendiri bekerja sebagai buruh di pabrik. Pusing, riweh udh kaya makanan sehari2.. walaupun jam kerja udh diatur. Nyatanya pabrik sering banget ngasih jam lembur yang kesannya seperti wajib. Hehehe

    Karena aku suka gambar. Jadi sering banget, ehh nggk sering sih. Cuma beberapa kali dpet side job buat bikinin desain.. hahah agak ribet sih permintaannya.. tapi cukup menyenangkan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama jam kerjanya nggak mencapai jam kerja purna waktu (full-time), menurut saya hitungannya tetep kerja lepas, Mas Bayu :D

      Wah, kenalan saya juga banyak banget lo yang jadi buruh pabrik. Saya respect banget sama mereka, secara beban pekerjaannya itu di luar batas kesanggupan saya. Takjub banget lah pokoknya, dan bener banget Mas Bayu, respect saya makin bertambah sewaktu denger mereka harus lembur sampai beberapa hari dalam seminggu. Gokil lah!

      Asik tuh Mas, hobinya jadi menghasilkan duit! Yang penting dibawa enjoy ya biar happy terus ngerjainnya :) Terima kasih sudah mampir di blog saya, Mas Bayu :D

      Hapus
  2. wow sudah jadi freelance writer selama 2 tahun, keren!
    aku dulu jg penulis fulltime di sebuah media online dan 4,5 tahun kurang lebih..

    Sekarang pingin deh jadi freelance writer :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, sudah jadi penulis purna-waktu selama kurleb 4,5 tahun, keren! Monggo-monggo dicoba, Kak :D Karena sudah berpengalaman sepertinya sih masa transisinya nggak bakal susah-susah amat lah ya.

      Hapus
  3. Hi Kak Eva, suka sekali dengan tulisannya 😍
    Setiap pekerjaan pasti ada suka dukanya dan kebanyakan orang sering lupa dengan "duka" dibalik pekerjaan yang dijalani orang lain 😂. Lewat tulisan ini, aku jadi bertambah insight perihal pekerjaan freelance yang ternyata dukanya juga banyak 😂 apalagi perihal banyak pandangan miring atas pekerjaan freelance ini 😂 Kak Eva kuat sekali menghadapinya~~~
    Kak Eva, semoga project-project freelancenya bisa ada terus setiap bulan dan setiap project dilancarkan 💪🏻 semangaaat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow, terima kasih banyak, Kak Lia <3

      Hu-um, betul sekali. Kebanyakan orang mungkin cuma melihat sisi glamornya saja, tapi luput melihat duka-duka yang ada di baliknya. Bisa dibilang ibarat iceberg gitu deh.

      Haha, saya sempat minder juga sih, termakan omongan orang! Ya mungkin kata-kata Kak Lia itu ada benarnya juga, barangkali saya tergolong yang cukup "kuat" menghadapi omongan-omongan orang, hihihi. Berkulit badak gitu lah kalau kata orang sini!

      Moga-moga ya Kak Lia, biar dapur bisa terus mengebul hehehehe. Semangat buat Kak Lia juga!

      Hapus
  4. Aku salut Ama semua pekerja freelance, karena menurutku mereka tangguh. Ga gampang kerja secara freelance itu. Dengan tantangan income yg tidak menentu dll. Jd kalo ada org yg survive di sana, pasti orangnya ulet :)

    Aku sendiri Juli THN lalu resign Krn memang kepengen di rumah Ama anak2 mba. Suami masih kerja, jd aku ga terlalu mengkuatirkan soal income. Tapi dengan banyaknya waktu di rumah, aku juga iseng ngerjain kerjaan yg bisa dilakukan di rumah. So far papa minta tlg utk cek laporan keuangan tokonya, yg dikirim lwt surel dan bisa aku kerjain dr software khusus.

    Dan yg bikin seneng, aku bisa fokus Ama trading saham, yg sbnrnya kalo dilakuin serius, hasilnya malah LBH gede dari gajiku sebulan saat msh kantoran :D. Tapi ttp hrs diinget, resiko juga besar :D. Cm Krn aku udh terbiasa Ama hal2 yang menyangkut saham dan angka, buatku malah menantang aja sih kerjaan begini.

    Tapi ya itu, aku ga ngoyo.. ini aku lakuin lebih utk ngisi waktu sih, biar ga bosen di rumah :) . Tetep sih kalo ditanya org, kerjaannya apa, aku LBH seneng bilang, ibu rumah tangga :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. There is no place like home ya, Kak :D Tapi karena tiap orang beda-beda, jadinya nggak semuanya bakal setuju dengan pernyataan itu.

      Kak Fanny beruntung karena bisa menemukan kebahagiannya di rumah. Jadi meskipun "resign", Kak Fanny tetep enjoy menjadi ibu rumah tangga. Sepertinya kebanyakan orang nggak begitu... Apa mungkin karena selagi di rumah doang kepikiran nyari duit darimana, ya? Padahal rezeki sih ada di mana-mana, seperti Kak Fanny yang akhirnya menemukan jalannya untuk trading saham, atau saya yang menulis lepas, selama dicari mudah-mudahan ketemu.

      Betewe Kak, saya sebenernya lagi minat soal investasi-investasi begitu, rencananya sih tahun ini juga mau mulai belajar. Kalau Kak Fanny sendiri pertamanya langsung terjun ke trading saham atau dari reksadana kecil-kecilan dulu?

      Hapus

Back to Top