Bagaimana Cara Menjadi Freelance Writer dengan Nol Pengalaman?

Cara Menjadi Freelance Writer

Menyambut tahun baru, tidak sedikit orang yang berangan-angan hendak menjalani “kehidupan” baru: mungkin ada yang bercita-cita tinggal di rumah baru, kepingin membeli motor baru, atau sempat terpikirkan untuk mengubah haluan kariernya.

Nah, khusus keinginan terakhir ini alasannya bisa berupa-rupa.

Penyebabnya barangkali karena sudah tidak betah menghadapi omelan atasan yang nyerocos terus bak petasan, ketidaksanggupan memikul beban kerja (atau yang istilah gaulnya khas anak kekinian yaitu menjadi “budak korporat”), dan sederet alasan-alasan lainnya yang terlalu memilukan untuk dijabarkan.

Kalau di benak dan hati Anda sempat terbersit niat yang sama, mengapa tidak memanfaatkan momentum ini untuk menjajal peluang lainnya? Menjadi seorang penulis lepas (freelance writer), contohnya?

Dari sekian banyaknya opsi yang ada, Anda boleh jadi terbengong-bengong mendengar rekomendasi saya.

Ini seriusan, Mbak?

Iya, serius. Ciyus pake banget, malah!

Lalu Anda bakal tidak sabar untuk segera menyangsikan pendapat saya dan nyeletuk, “Kenapa harus freelance writer? Kan masih ada banyak kerjaan lainnya di luar sana yang lebih menghasilkan cuan. Dan lagi nih Mbak, apakah menulis artikel menghasilkan uang?”

Tenang saja, Pak, Bu, Mas, Mbak. Saya perinci alasannya satu-persatu, yes?

Kalau Anda termasuk tipe orang yang saya sebutkan di bawah ini:

  1. Punya hobi menulis dan berangan-angan menjadikannya sebagai ladang penghasilan,
  2. Mendambakan jadi atasan untuk diri sendiri,
  3. Haus akan kebebasan untuk bekerja darimana saja (termasuk dari rumah sendiri), dan
  4. Kepingin punya pemasukan tambahan,

... maka tidak ada salahnya buat Anda mempertimbangkan untuk menjadi freelance writer online atau freelance content writer di tahun 2021 ini.

Sejauh ini kedengarannya menggiurkan, bukan?

Boljug sih, Mbak, boleh juga. Kebetulan saya hobi nulis dan saya udah ogah kerja kantoran. Tapi pengalaman menulis saya masih cetek, nih. Biasanya saya cuma nulis buat diri sendiri, buat sekadar have fun aja. Mana ada lowongan kerja menulis buat orang yang minim pengalaman macem saya?

Inilah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh sebagian besar orang. Niat untuk menggeluti bidang tersebut sudah terbit, sayangnya rasa takut-takut lebih kuat memegang kendali.

Jangan khawatir, kawan. Percayalah bahwa saya juga pernah berada di posisi merisaukan seperti itu. Namun, bukankah semua pada awalnya pun begitu?

Apa mungkin seseorang terlahir ke dunia ini dan sekonyong-konyong sim sim salabim dinobatkan menjadi atlet renang top atau penyanyi terbaik sedunia? Impossible, bro, sis!

Segala sesuatu yang terjadi di bumi itu dimulai dari nol (iyes, semuanya, bukan cuma kegiatan isi bensin di SPBU aja yang dimulai dari nol). Ada awal, ada akhir. Ada garis mulai, ada finish line.

Kerja menulis online juga punya siklus yang sama. Sebelum Anda berhasil menaiki puncak tangga kesuksesan dalam karier ini, Anda patutnya berangkat sebagai freelance writer pemula dulu.

Awal perjalanan karier saya sebagai seorang freelance penulis konten diwarnai dengan keresahan dan horor pula. Wah, sudah nggak terhitung seberapa sering saya pusing tujuh keliling lantaran kelabakan gimana dan di mana saya bisa memasarkan jasa saya.

Jujur aja nih, proses menemukan workflow yang mantap cukup menyita waktu. Saya melewati bulan-bulan penuh kebimbangan sampai rasa kalut dan cemas itu berangsur-angsur menghilang pada akhirnya. Lambat laun saya menyadari bahwa langkah awal menjadi penulis lepas yang sebenarnya bisa dirangkum dengan tiga kata ini saja: just do it.

Iya, saya ngaku deh, saya pinjem slogannya Nike, tapi itu bukan tanpa alasan lo!

Saya percaya kalau slogan ini relevan banget buat kita-kita yang doyan maju-mundur syantik setiap kali hendak memulai sesuatu. Betul nggak tuh?

Ibarat perumpamaan, itu namanya merasa “kalah sebelum berperang”.

Bahaya dong, kalau belum apa-apa nyalinya ciut duluan karena terlanjur membayangkan yang bukan-bukan? Pastilah yang rugi diri sendiri, sebab enggan mencoba di permulaan.

Pengalaman penulis freelance a la Eva

Terus terang saja, keluarga saya bukan keluarga yang berada.

Hidup kami serba pas-pasan karena ayah dan ibu saya bekerja di sektor informal. Walaupun demikian, keduanya tidak segan untuk bermimpi. Harapannya adalah supaya si sulung bisa berkuliah, tidak seperti mereka yang tamatan SMA.

Singkat cerita, impian tersebut terwujud dan sesuai dugaan, that dream cost them a fortune. Meski saya diterima di PTN, biaya yang harus dikeluarkan per semesternya tidak sedikit. Penyesalan pun timbul. Andai saya belajar lebih giat, maka bukan hal yang mustahil untuk mendapatkan beasiswa.

Tapi nasi sudah jadi bubur. Apa mau dikata, jalani saja apa yang ada!

Keadaan inilah yang lantas membuat saya memutar otak, mencari cara mendapatkan uang saku tambahan. Yah, syukur-syukur kalau bisa meringankan beban orang tua dalam membiayai pendidikan saya, pikir saya kala itu.

Wah, bukan main riweuhnya proses yang saya lalui saat itu.

Pernah sekali waktu saya mengajar privat anak SMP. Tak sampai tiga bulan, saya K.O. dibuatnya. Bukan karena tak cakap atau tak suka.

Di setiap pertemuan pikiran saya selalu mengembara ke mana-mana. Kekhawatiran berlebih selalu muncul kalau-kalau murid saya kesulitan ngeh dengan teknik mengajar saya yang mungkin dianggapnya unik bin nyeleneh (catatan: saya bukan mahasiswa jurusan pendidikan).

Barangkali akibat dorongan minder yang terus merongrong itulah saya jadi semakin sulit memantapkan diri untuk bertahan.

Setelah lumayan lama mondar-mandir ke sana kemari mencari cara mencari uang untuk mahasiswa yang pas dengan minat saya, pilihan saya jatuh pada menulis lepas, atau freelance writing.

Mengapa?

Alasannya kurang lebih sama seperti yang saya kemukakan sebelumnya, kok, walau saat itu motivasi terkuat adalah alasan pertama (saya hobi menulis) dan ke-4 (saya kepingin mendapatkan pemasukan tambahan).

Apa selanjutnya saya langsung jedor mengeksekusi keputusan itu? Jawabannya: nope.

Why?

Saya nggak ngerti gimana cara menjadi penulis lepas bagi pemula. Ditambah lagi saya nggak punya pengalaman bekerja di bidang ini sebelumnya. Gimana saya meyakinkan klien-klien potensial bahwa, “Hei, tulisan saya bagus lo! Order, yuk?”

Berbekal pertanyaan-pertanyaan itulah saya pun memutuskan untuk mempelajari dan mencaritahu lebih banyak lagi tentang apa itu freelance writing. Google menjadi “sekolah” bagi saya kala itu.

Di sana, saya menjumpai segudang informasi dari para penulis lepas yang notabene dulunya juga mengawali karier dengan minim pengalaman. Ada juga lo yang langsung terjun bebas tanpa berbekal pengalaman apa-apa! Pengalaman freelance writer profesional seperti Katie dari The Quiet Type membakar semangat saya untuk lekas memulai perjalanan saya sendiri.

Oke, jadi selanjutnya apa nih? Mbak berhasil dapet klien pertama?

Tentunya tidak!

Iya, saya sudah teryakinkan sebelumnya bahwa pengalaman menulis bukanlah persyaratan utama yang dibutuhkan untuk menjadi penulis lepas. Namun, itu nggak serta-merta mengartikan bahwa mencari lowongan freelance content writer segampang membalikkan telapak tangan!

Agaknya sedikit sulit menemukan klien yang asik diajak bekerja sama. Disebabkan oleh proses pencarian klien yang rumit inilah yang menjadikan saya kudu banting-tulang mengirim “lamaran” ke sana kemari.

Oh ya, untuk sedikit informasi aja, saya menjajakan jasa kepenulisan saya lewat Projects.co.id. Nggak terhitung berapa banyak trial and error yang menyandung langkah saya. Perlahan-lahan saya pun mengerti dukanya ngelamar proyek-proyek yang tersedia di platform tersebut, huhuhu.

Tapi, terlepas dari rintangan yang wajib saya lewati, perlahan tapi pasti “kesuksesan” mulai menghampiri. FYI aja nih, enam bulan setelah saya memulai pekerjaan freelance untuk mahasiswa yang satu ini, pundi-pundi rupiah pun mengalir ke dompet saya.

Dari yang awalnya cuma dibayar goceng per tulisan (ho-oh, ini beneran deh, nggak bo’ong) sampai menembus angka 100.000 rupiah untuk satu artikel, boleh dikata saya sudah lumayan makan asam garam di dunia kerja lepas ini.

Bahkan, dari yang awalnya cuma buat cari uang saku tambahan, kerja freelance online ini pada akhirnya menjadi mata pencaharian utama saya selepas lulus dari perguruan tinggi.

Yang penasaran dengan berapa “gaji” saya per bulannya, silakan dikira-kira sendiri saja, ya. Intinya, penghasilan itu cukup untuk menghidupi keluarga kami (malahan saya sanggup menggantikan Ayah dan Ibu melunasi biaya pendidikan SMA adik saya hingga tamat dan mengantarkannya ke bangku perkuliahan juga).

Sekarang, giliran saya untuk membeberkan semua informasi dan ilmu yang telah saya gali selama dua tahun belakangan kepada Anda.

Apabila pertanyaan semacam “bagaimana cara menjadi penulis online yang menghasilkan uang” kerap mengganggu tidur Anda di malam hari, maka Anda tidak boleh ketinggalan penjelasan yang satu ini.

Di sini, Anda akan menelaah cara memulai karier freelance Anda sebagai penulis lepas tanpa pengalaman. Mudah-mudahan apa yang saya jabarkan di sini bisa memandu Anda tentang tahapan-tahapan apa yang biasanya dilalui seseorang untuk menjadi freelance writer bagi pemula.

Khususnya bagi Anda yang bertekad kerja di rumah dapat gaji, yuk kepoin sampai akhir.

Cara Menjadi Penulis Lepas untuk Pemula

Bagus kiranya kalau Anda sudah mantap berkehendak jadi penulis lepas. Sayangnya, itu saja belum cukup. Ada sejumlah pertimbangan lain yang mesti Anda buat sebelum mempromosikan jasa Anda.

Jadi, saya sebaiknya mulai dari mana?

Pilihannya tidak terbatas, tapi saya lazimnya mengawali dengan mengambil beberapa langkah berikut.

1. Pilih niche

Cara Menjadi Freelance Writer

Dalam bidang menulis, terdapat banyak genre berbeda yang bisa ditemukan. Niche-nya tak ketinggalan bervariasi pula. Dengan mempersempit lingkup pilihan yang ada, Anda dapat menentukan niche atau topik spesifik apa yang persisnya hendak Anda bahas.

Secara pribadi, tahapan ini penting banget dilakuin, terutama karena saya berharap Anda mampu menemukan job dengan fee layak.

Dua keuntungan berikut secara otomatis mengikuti langkah Anda ke manapun Anda pergi hanya dengan memilih niche saja.

  1. Anda memberikan kesan positif selayaknya ahli di bidang yang Anda tekuni, dan
  2. Kredibilitas Anda sebagai penulis lepas pun meningkat berkatnya.

Mendefinisikan niche yang cocok buat masing-masing penulis lepas agaknya susah-susah gampang.

Duh, saya jadi terkenang akan sesuatu.

Sebagai penulis pemula, saya enteng banget melamar job sana sini tanpa ambil pusing entah klien tersebut bakal memberikan upah yang sepadan dengan effort saya, atau menimbang-nimbang sekiranya saya mahir atau nggak mengulas topik yang diajukan.

Wong namanya juga memanfaatkan kesempatan yang ada, sikat abis aja semuanya! Ngapain pilih-pilih? Nanti rugi sendiri lo!

Nyatanya, pemikiran saya waktu itu justru SALAH besar. Di permulaan sih nggak begitu kentara akibatnya, tapi lambat laun mulai terasa juga efek sampingnya: baru sebulan-dua bulan bekerja, passion saya surut bak drainase di musim kemarau.

Dari hasil pengamatan saya, inilah biang keroknya.

Yang pertama, karena penghasilan saya yang segitu-gitu aja, dan kedua, saya nggak tertarik dengan tema yang diusung.

Nah, inilah pentingnya menetapkan niche Anda sedari awal. Memilih niche memungkinkan Anda untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan mencegah terjadinya burn out (atau kehilangan minat seperti di kasus saya).

Dalam memilih niche pun Anda tidak diharuskan untuk benar-benar menjadi “sang ahli” di bidang tersebut, kok.

Misalnya, Anda gemar menonton pertandingan sepak bola. Anda sesungguhnya tidak tahu betul kelebihan dan kekurangan para pemain di klub favorit Anda. Pokoknya sekadar suka saja, lah! Tapi, jangan menjadikan ketidaktahuan tersebut sebagai dalih bahwa Anda tidak bisa.

Anda bisa mempelajari tentang hal itu lebih lanjut baik dengan melakukan studi pustaka atau bertanya ke orang yang lebih mengerti. Karena Anda suka sepak bola, melangsungkan riset dan wawancara pun terasa mudah sekaligus menyenangkan buat Anda.

Berbeda halnya jika saya yang diminta. Wah, lima menit mengerjakannya pasti terasa bagai lima abad yang ngebosenin! Mengapa? Karena saya nggak tertarik dengan topik tersebut. Bisa-bisa saya gumoh di tengah-tengah pengerjaannya.

Sekali lagi, segera tentukan niche apa yang seratus persen Anda gemari sebelum nyemplung ke dunia freelancing, contohnya (tapi tidak menutup kemungkinan untuk topik lain): marketing, desain interior, otomotif, keuangan, agribisnis, dsb.

2. Tentukan bentuk tulisan

Cara Menjadi Freelance Writer

Berikutnya, mari kita eksplorasi ragam tulisan seperti apa yang hendak Anda buat. Apakah itu web copy? Artikel ilmiah? Postingan blog? Atau email copy?

Anda boleh mencari inspirasi dari daftar berikut. Beberapa gaya tulisan yang ngetren akhir-akhir ini meliputi:

  1. Postingan blog
  2. Artikel ilmiah
  3. Studi kasus
  4. White paper
  5. Ghostwriting
  6. Siaran pers
  7. Copywriting

Langkah kedua ini sejatinya berfungsi memperjelas niche tulisan Anda. Yang lebih kerennya lagi, trik ini dapat Anda jadikan sebagai alat bantu untuk membuat “gelar” bagi diri Anda sendiri, e.g.: “Digital Email Marketing” atau “SEO Content Writer”. Saking jelasnya spesialisasi yang Anda miliki sekarang, memasarkan jasa Anda ke klien-klien potensial barangkali tidak akan terasa sepelik dulu lagi.

Oh ya, Anda tidak mesti saklek menulis satu jenis tulisan saja. Kalau saya sih mampunya memang menulis postingan blog aja, tapi nggak jarang saya menjumpai freelance writer lainnya yang mahir copywriting sekaligus menyusun artikel ilmiah.

Pesan saya cuma satu: jangan mengklaim apa yang tidak bisa Anda berikan. Apabila menyusun caption Instagram bukanlah keahlian Anda, hindari mengatakan yang sebaliknya. Strategi tersebut justru akan berbalik menyerang Anda sendiri lo. Hiii, ngeri!

3. Susun portofolio

Cara Menjadi Freelance Writer

Mengapa Anda perlu menyusun portofolio?

Dipikir-pikir lagi, menjadi freelance writer pemula tanpa pengalaman itu sedikit merendahkan level saya dari level orang-orang lain yang barangkali sudah terbiasa menulis dan karyanya dipublikasikan. Jelas banget saya dirugikan di sini seandainya kami sama-sama berkehendak menjadi freelance writer di waktu yang bersamaan karena toh kami memulai di garis start yang berbeda!

Tapi saya nggak mau Anda meniru cara pikir saya yang sempit.

Coba lihat sisi baiknya: karena minim pengalaman, Anda malahan berkesempatan untuk membuat sample tulisan Anda dengan tulus dan bersungguh-sungguh. ‘Tul nggak?

Caranya, Mbak?

Mula-mula, pikirkan 2-3 topik terkait niche Anda dan kembangkan topik-topik tersebut ke dalam artikel pendek atau postingan blog. Begitu beres, terbitkan karya Anda di LinkedIn, Kompasiana, atau di blog Anda sendiri.

Nah, sekarang Anda punya bahan promosi yang bisa Anda bawa-bawa dengan percaya diri untuk memasarkan jasa Anda.

Pastikan untuk selalu, selalu, dan selalu menampilkan tulisan terbaik Anda! Saya nggak pernah bosan mengecek tulisan saya berulang-ulang supaya terbebas dari yang namanya typo dan plagiarisme sebelum menunjukkannya ke klien. Terkadang, saya minta bantuan orang lain untuk membacanya keras-keras demi memastikan bahwa artikel saya lolos saltik.

Malu cyin andaikata ketahuan teledornya! Yang ada para klien kabur duluan sebelum betul-betul mempertimbangkan value saya, amit-amit deh!

4. Tentukan rate

Cara Menjadi Freelance Writer

Saya maklum kalau menentukan berapa “harga” jasa Anda adalah perkara yang sensitif. Siapa sih yang nggak kepingin dibayar mahal?

Tapi Mbak, saya kan belum berpengalaman? Gimana caranya bersaing dengan penulis-penulis yang udah melanglang buana? Apa sebaiknya saya turunkan rate aja, ya? Kalau lebih murah, mereka pasti bakal menghampiri!

Ini kisah nyata lo.

Kesimpulan seperti yang saya contohkan di atas umum sekali saya temui di situs-situs freelance dan saya cuma bisa meringis kecut melihatnya. Daripada mendatangkan keuntungan, strategi tersebut justru akan membawa malapetaka bagi karier Anda untuk jangka panjang.

Saya nggak bisa berpesan banyak untuk memperbaiki kesalahpahaman ini, kecuali supaya Anda tidak memandang rendah apalagi merendahkan nilai diri Anda. Hanya karena Anda menjadi freelance writer pemula tanpa pengalaman tidak sekonyong-konyong mengartikan bahwa kualitas pekerjaan Anda jauh lebih rendah daripada mereka-mereka yang berpengalaman.

Itu sama sekali tidak betul, dan saya percaya akan kebolehan Anda.

Oleh karena itu, renungkan matang-matang berapa pantasnya Anda “menghargai” jerih payah Anda. Cari angka yang pas, sesuai dengan bagaimana Anda menilai diri Anda sendiri: tidak terlalu tinggi atau terlampau rendah.

5. Cari lowongan kerja menulis freelance

Cara Menjadi Freelance Writer

Seperti yang telah saya singgung sedikit sebelumnya, saya mengawali karier saya sebagai penulis lepas dengan bergabung menjadi anggota di Projects.co.id. Pertemuan tersebut terjadi secara nggak disengaja. Sewaktu saya menceritakan soal keinginan saya untuk bekerja online dari rumah, teman saya menyarankan agar saya mengecek platform tersebut.

Saya mempertimbangkan saran tersebut dan segera mendaftar.

Sebentar aja saya pun paham dengan cara kerja yang diusung Projects.co.id. Navigasinya yang jelas dan tampilan situs webnya yang user friendly memudahkan penulis-penulis baru untuk berpindah dari satu laman ke laman lainnya.

Sayangnya, saya nggak bisa menutup mata begitu saja dengan kenyataan bahwa persaingan antar penulis di platform tersebut sengit banget. Proyek-proyek tertentu aja berhasil menarik minat sampai 100+ user.

Wah, pasti nggak gampang menempatkan diri di barisan terdepan di antara sekian banyaknya penulis!

Betul, memang nggak gampang untuk meyakinkan klien dengan modal omongan, “Eh, pilih saya dong, sayalah yang pantas dipercaya untuk menuntaskan pekerjaan ini.” Lantas, apa sebaiknya Anda menghindari situs-situs seperti ini?

Jawaban saya sih no.

Triknya terletak pada kepiawaian penulis untuk merebut hati klien (yang mudah-mudahan sempat saya singgung di kesempatan berikutnya). Selama Anda tahu bagaimana cara memenangkan hati klien, maka bukan perkara rumit untuk jadi yang nomer satu.

Dengan demikian, tidak ada lagi dalih untuk tidak mendaftar karena takut. Malahan itu boleh jadi kesempatan berharga bagi Anda untuk mengasah kemampuan negosiasi Anda.

Selain Projects.co.id, platform serupa lainnya di mana Anda dapat memasarkan jasa Anda adalah Sribulancer. Atau, Anda juga bisa bergabung dengan grup-grup freelancer yang berlimpah di Facebook.

6. Dekati klien secara langsung

Cara Menjadi Freelance Writer

Atau yang lebih suka saya sebut dengan istilah “jemput bola”, hehehe.

Apa itu jemput bola?

Jadi, ketimbang mendaftar satu-persatu untuk tiap postingan proyek aktif yang terpampang di platform seperti Projects.co.id dan Sribulancer, saya prefer untuk mengirimkan pesan secara terpisah ke si empunya proyek alias klien ybs. Kiat ini nggak terbatas untuk diterapkan di proyek yang sedang aktif saja, tapi di proyek yang sudah lewat masa berlakunya pun masih oke.

Tujuannya ialah memberitahukan kepada calon klien bahwa, “Hai, Pak, Bu, Kak! Saya available untuk diajak kerja sama lo!”

Nah, terlepas dari direkrut atau tidaknya freelance writer yang mengaplikasikan kiat ini, teknik jemput bola sedikitnya dapat memberikan tiga dampak positif bagi karier freelancing Anda.

  1. Membangun relasi dengan orang-orang di dalam industri yang sama. Bahkan apabila Anda gagal dipekerjakan nih, at least pesan dari Anda tersebut berhasil mengekspos tentang keberadaan Anda. Siapa tahu orang-orang ini membutuhkan jasa saya suatu hari nanti, anggaplah begitu. Plus-nya lagi nih, meskipun orang-orang itu sedang nggak memiliki lowongan buat Anda, mereka mungkin kenal rekan-rekan lainnya yang sedang memerlukan jasa Anda lo.
  2.  Adanya peluang untuk direkrut di kemudian hari. Ya, seperti yang saya jelaskan di poin pertama, ada kalanya calon klien sedang tidak dalam posisi untuk membuka lowongan freelance content writer setiap waktu. Tapi, suatu saat nanti mereka barangkali memiliki job untuk dipertimbangkan. Nggak ada ruginya deh jemput bola! Bukan hal mustahil juga kalau Anda adalah orang yang akan dihubungi pertama kali untuk mengambil tawaran tersebut.
  3. Menjadi ajang latihan yang ideal untuk menyempurnakan kemampuan negosiasi. Yups! Bayangkan saja ini latihan untuk memperbagus skill komunikasi Anda. Coba kombinasi ekspresi yang berbeda-beda di tiap pesan Anda dan perhatikan mana yang berhasil menerima respon terbaik.

Sertakan pula link menuju blog atau situs web di mana Anda mempublikasikan portofolio Anda. Ini memberikan gambaran yang jelas bagi calon klien untuk mengevaluasi kesesuaian Anda dengan proyek yang dipunya, dan tentunya terdengar lebih meyakinkan ketimbang sekadar mengumbar janji-janji manis belaka.

Biar hasil pekerjaan Anda yang membuktikan kualitas dan kinerja Anda.

7. Terus asah kemampuan diri

Cara Menjadi Freelance Writer

Penulis lepas yang sukses tahu bahwa kemampuan mereka masih perlu ditingkatkan setiap waktu, bahkan ketika karier mereka sudah mapan sekalipun.

Belajar dari pola pikir seperti itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri kalau penting sifatnya untuk terus menggali ilmu dan memperbarui skill saya.

Saya perluas pengetahuan saya dengan mengikuti kursus-kursus online, mendaftar program sertifikasi untuk meningkatkan kredibilitas saya, dan melahap buku-buku seputar self-improvement di waktu luang. Saya nggak mau gampang berpuas diri.

Nggak bosen, Mbak?

Sekali-dua kali bosen sih. Wajarlah, namanya juga manusia, ye khaaan. Kalau robot sudah pastilah saya betah ngelakuin itu seharian! Yah, dibawa enjoy sajalah, ya. Toh belajar itu nggak ada ruginya!

Kalau Anda kurang suka menonton video dan lebih sreg membaca, ya monggo, cari buku-buku tentang writing yang menginspirasi Anda untuk jadi penulis yang lebih baik. Semisal Anda lebih suka belajar dari orang lain, tidak usah malu-malu bergabung dengan komunitas penulis lepas di medsos.

Terus kembangkan skill Anda di manapun dan kapanpun!

Kesimpulan

Nggak terbayang jika tulisan yang mulanya saya niati jadi panduan singkat ini justru menjelma menjadi artikel dengan jumlah kata 3.000 lebih. Banyak juga, ya! Saya gelisah nih, apa jangan-jangan ada yang tertidur di tengah-tengah celoteh saya yang panjang kali lebar ini?

Habis mau bagaimana lagi, saya memang orangnya paling anti kalau kerja setengah-setengah! Sekalian aja ditumpahkan semuanya, jadi para pembaca yang budiman tahu secara menyeluruh tentang cara menjadi freelance writer menurut pengalaman saya yang mengawalinya dari nol.

Moga-moga apa yang saya ungkap di artikel ini bermanfaat bagi kawan-kawan seperjuangan yang berkeinginan untuk mengubah haluan kariernya menjadi penulis lepas di tahun baru ini.

Nah, kini Anda juga tahu bahwa orang biasa tanpa pengalaman sekalipun tetap bisa eksis di industri ini selagi ada kemauan untuk belajar dan berkembang.

Akhir kata, semoga beruntung!


Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

6 Komentar

  1. Tahun baru harus punya semangat baru dan harapan baru ya, kak. Kalau aku lebih suka menulis di blog pribadi aja sih karena lebih nyaman dan sesuai dengan keinginanku.

    Berawal dari hobi jadi profesi ya. Kakak hobi menulis dan akhirnya jadi penulis. Tetap semangat menulis ya, kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap! Betul sekali, Kaaak. Walaupun nggak kesampaian bikin resolusi (karena takut gagal nepatin lagi hihi) but at least semangat dan harapannya harus tetep digenjot :)

      Nah, itu dia yang paling penting! Semuanya kudu dimulai dari nyaman dulu, semestinya. Kalau nggak nyaman bisa-bisa hobi/pekerjaan jadi bumerang buat kita sendiri in the long run.

      Yah, bisa dibilang begitu lah Kak, hehehe! Terima kasih banyak buat semangatnya plus sudah bersedia mampir di blog saya :D

      Hapus
  2. Info yang sangat menarik, mbak. Saya jg kebetulan mau cari2 lowongan freelance gitu, otw ke link yang disarankan mbak nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selamat mengubek-ubek situsnya ya Mas Dodo, mudah-mudahan ketemu dengan apa yang dicari!

      Hapus
  3. 3000 kata yang tersusun dengan baik dan alur penyampaian yang baik tidak akan membuat ngantuk.

    Kalaupun ada yang tertidur, biarkan saja. Mungkin dia lelah.. hahahaha

    Good Post Eva

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwooo nice, Mas Anton! Okidiw, yang lelah itu saya biarin aja tidur di pojokan deh ya, hahahaha.

      Anyway terima kasih atas kunjungannya, Mas :D

      Hapus

Back to Top