4 Alasan Mengapa Tarif yang Rendah Itu Berbahaya Bagi Penulis Lepas

Alasan Mengapa Tarif yang Rendah Itu Berbahaya

Judul postingan kali ini sengaja saya bubuhkan kata sifat “berbahaya” guna melipatgandakan kengerian dari topik yang hendak saya ulas.

Bukan untuk mendramatisasi suasana (tenang, saya orangnya nggak hobi ngedrama kok), tapi lebih kepada “reminder” bagi teman-teman freelance writer sekalian yang berani coba-coba ngasih rate rendah ke klien.

Memangnya seberbahaya apa sih? Jangan lebay, deh.

Oke, saya maklum andaikata itu merupakan pendapat Anda tentang statement saya. Saya bisa menyimpulkan bahwa sepertinya Anda tidak melakoni pekerjaan tersebut, sehingga komentar tersebut boleh jadi muncul dari ketidaktahuan Anda tentang bagaimana dan seperti apa dunia kerja freelance writing itu.

Tapi, bagi mereka yang mana berburu klien “manusiawi” telah menjelma selayaknya santapan sehari-hari, simpati dan anggukan menyetujui adalah respon lumrah yang mereka tunjukkan dalam menanggapi pernyataan tersebut.

Nah, berhubung saya orangnya baik hati, tidak sombong, dan rajin menabung (what?), maka bakal saya jelaskan alasan di balik pengungkapan statement yang agak kontroversial tersebut.

Bagi si Eva dua tahun yang lalu, yang notabene baru menginjakkan kakinya di dunia kerja lepas sebagai freelance writer pemula, persoalan seperti bagaimana cara menggaet calon klien dan memenangkan proyek menulis bagaikan hitung-hitungan Matematika yang sulit dipecahkan.

Seperti yang pernah saya ulas di sini, bisa dibilang saya tergolong nekad nyemplung ke industri ini. Gimana nggak nekad wong pengalaman menulis saya nihil, hihihi! Tulisan-tulisan yang ada di hard disk laptop saya kebanyakan, yah, tugas-tugas kuliah, sedangkan sisanya mungkin cerpen-cerpen alay yang saya tulis demi kepuasan diri sendiri.

Nah, nggak mengherankan dong jika saya kelabakan dalam menonjolkan potensi saya. Apalagi jika harus bersaing dengan sekian banyaknya freelance writer yang lebih tinggi jam terbangnya ketimbang saya, mau nangis aja deh rasanya!

Sikap minder dan nggak PD itu menyeret saya ke lubang keterpurukan yang cukup dalam pada beberapa bulan pertama saya bekerja lepas. Entah bagaimana jadinya otak kecil saya ini sampai sempat-sempatnya terpikirkan satu ide bego (yang masih saya sesali sampai detik ini).

Saya muak dengan nihilnya jumlah klien yang tertarik untuk bekerja sama dengan saya. Portofolio sudah disiapkan dengan sebaik mungkin, pesan-pesan promosi sudah dibuat dengan sehati-hati mungkin, tapi kenapa nggak ada satupun yang melirik saya?

Terbersitlah di benak saya akan satu asumsi: sepertinya saya menetapkan standar rate-nya terlalu tinggi, kurang lebih begitu tebakan saya kala itu.

Merasa bagai orang paling jenius sedunia atas temuan yang diwahyukan kepada saya saat itu, saya pun lekas merevisi strategi pemasaran saya. Tak usah ragu untuk membanting harga! Makin murah, makin laris!

Sotoy banget nggak tuh si Eva? Dikira dia lagi dagang panci obralan mungkin, ya? Sampai berani banting harga gitu, hadeh.

Gitu deh pokoknya! Harap maklum saja, toh masih pemula. Pemikiran dan cara pandangnya memang tak selebar daun kelor!

Kalau dipikir-pikir, beberapa jenis usaha tertentu mencari keuntungan dengan cara bersaing harga, contoh sederhananya yaitu Alfamart dan Indomaret. Perusahaan-perusahaan ini berlomba-lomba menarik minat pembeli dengan menjanjikan harga produk yang lebih murah dibanding yang diusulkan sang kompetitor.

Jika diterapkan di pasar industri skala besar, sah-sah saja bagi korporasi-korporasi tersebut untuk menerapkan alur pemikiran semacam ini. Bagaimana tidak?

Hello, kita lagi ngomongin tentang dua merek usaha waralaba dengan jumlah franchise terbesar di Indonesia gitu lo, wajar dong kalau mereka nggak takut rugi dengan strategi marketing yang ekstrem! Potongan harga yang berarti besar buat konsumen mungkin tidak ada apa-apanya ketimbang keuntungan yang mereka raup dari total penjualan.

Masalahnya, sistem tersebut tidak cocok diterapkan untuk pekerjaan sejenis freelancing yang mesti dikerjakan seorang diri. Menulis lepas, misalnya.

Ada berapa banyak jam perhari sih yang sanggup kita dedikasikan untuk bekerja? Nggak banyak! Ditambah lagi, dalam jangka waktu yang tidak panjang tersebut, berapa jumlah artikel yang sanggup kita buat per harinya?

Kita mendambakan profit besar dari volume proyek yang seadanya. Apakah ini masuk akal? Saya percaya pembaca blog ini tahu jawabannya.

Itulah sebabnya mengapa freelance writer sebaiknya berkompetisi dengan satu sama lain berdasarkan kualitas karya alih-alih berdasarkan harga, rate, fee, atau apapun itu istilahnya yang melambangkan duit.

Menawarkan tulisan yang berkualitas dengan harga rendah memang berpotensi melambungkan nama kita di mata para klien, sama halnya seperti betapa ngetrennya mobil-mobil berkelas berharga miring.

Lalu, mengapa tarif yang rendah itu justru berbahaya bagi penulis lepas?

Inilah ke-4 alasannya menurut pengamatan saya.

1. Freelance writer tidak bekerja 24 jam dalam sehari

Alasan terbesar mengapa saya nggak menyarankan beginner freelance writer untuk menjual tulisan mereka dengan harga rendah sebenarnya sesimpel perhitungan di bawah ini.

Jika kita mampu menuntaskan satu konten seharga 5.000 rupiah selama satu jam dengan total jam kerja per minggu adalah 40 jam, kita hanya mengantongi 200.000 rupiah setiap pekannya. Namun, apabila kita bernyali besar untuk menaikkan rate-nya hingga 25.000 rupiah per tulisannya, kita cuma perlu bekerja selama delapan jam saja untuk mencapai jumlah pemasukan yang sama!

Dengan total jam kerja yang sama, pemasukan kita terdongkrak hingga lima kali lipat lebih besar dari semula.

Dampaknya dahsyat sekali kan?

Sebagai pekerja lepas, terkadang kita tidak menyadari betapa banyaknya waktu yang dibutuhkan demi menuntaskan pekerjaan kita. Ini karena freelancing nggak kayak kerja kantoran pada umumnya, di mana karyawannya masuk dan keluar kantor di jam yang saklek.

Freelancer acapkali mengalami kesulitan dalam melihat batasan yang jelas seperti itu.

Susah tidur di malam hari? Ah, kerjain proyek yang itu deh.

Harus beberes rumah dan belanja ke supermarket di siang hari? Hmmm, kerjainnya sore aja, kali ya?

Akibatnya, kesehatan kita yang jadi korban.

Otak kita terlatih untuk menangkap dan mendeteksi sinyal-sinyal yang dipancarkan secara berpola (dengan ritme yang teratur). Tapi ketika kita bekerja tanpa pembagian waktu yang sama setiap harinya, otak kita menganggap bahwa seakan-akan kita bekerja terus sepanjang waktu.

Saya nggak terkejut mendengar keluhan dari teman-teman freelance yang statusnya masih hijau banget di industri ini. Yang katanya bangun tidur nggak merasa bugar lah, tiap waktu bawaannya stres melulu… Wah, pokoknya banyak deh, yang berkaitan dengan kesehatan mereka!

Hal ini tidak seharusnya menimpa kita apabila kita tidak ragu untuk menetapkan fee di tingkatan yang layak sedari awal.

Malahan, kita bakal bisa benar-benar merealisasikan impian untuk “bebas bekerja kapan saja sesuka hati” seperti yang selalu kita idam-idamkan selama ini, tanpa terbebani stres berlebih.

2. Value seorang freelance writer sejatinya lebih berharga dari apa yang terlihat

Kalimat di atas bukan omong kosong belaka: kita sejatinya memang lebih berharga dari apa yang kita lihat.

Untuk memahaminya, mari kita belajar dari ilustrasi berikut ini.

Alkisah, terdapat sebuah perusahaan fiktif (sebut saja “Perusahaan Abal-Abal”) yang sedang membutuhkan seorang penulis untuk menyusun ebook.

Sang penasihat Perusahaan Abal-Abal mencetuskan bahwasanya perusahaan tersebut punya dua rute yang bisa mereka tempuh, yaitu antara mempekerjakan karyawan tetap atau merekrut freelance writer untuk melaksanakan proyek tersebut.

Sebelum menetapkan pilihannya, sang penasihat yang arif nan bijak menjelaskan poin-poin berikut untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Dari sudut pandang ekonomi, Perusahaan Abal-Abal jelas akan merugi jika mereka mempekerjakan karyawan tetap.

Kok bisa?

Ketika mengangkat pegawai baru, sebuah perusahaan lazimnya kudu merogoh kocek yang tidak sedikit dalam memenuhi hak-hak pegawai itu khususnya berupa:

  • Gaji pokok
  • Asuransi kesehatan
  • Dinas ke luar kota
  • Pembelian ATK
  • Seminar atau pelatihan
  • Tunjangan lain-lain
  • Parsel lebaran/Natal
  • Pesangon
  • Dll

Wah, banyak juga, ya?

Di sisi lain, perekrutan pekerja lepas tidak diikuti dengan embel-embel pembengkakan biaya seperti karyawan tetap.

Nah, jika Anda jadi pimpinan di perusahaan tersebut, kira-kira manakah yang akan Anda pilih? Anda bisa menyimpan jawabannya untuk diri Anda sendiri, tapi sebetulnya, bukan itu maksud saya menceritakan kisah ini.

Tujuan asli saya adalah untuk menggugah cara pikir baru yang barangkali belum terbersit di pikiran kita sebelumnya.

Next time ketika kita bakal menawar sebuah proyek, kita hendaknya memikirkan pengeluaran-pengeluaran yang harus dikeluarkan perusahaan dalam mempekerjakan seorang pegawai dengan mental seorang pemilik perusahaan.

Aduh, saya malah bingung nih, Mbak? Saya kan pekerjanya, kenapa harus ikut-ikutan mikirin pengeluaran kayak gitu?

Lo lo lo, siapa bilang kita ini cuma pekerja?

Kalau bekerja freelance, otomatis status kita merangkap pekerja sekaligus bos di “bisnis” kita sendiri dong! Dengan demikian, wajar saja kalau kita harus menanggung biaya-biaya tambahan itu pula!

Mindset seperti ini semestinya kita bawa setiap kali kita akan melamar proyek baru. Masukkan nominalnya ke dalam perhitungan kita, kalau bisa, tambahkan extra charge sebagai kompensasi untuk mengurus “perusahaan” kita seorang diri.

Mulanya saya grogi setengah mati mengumumkan perubahan tarif ini ke klien-klien lama saya. Tapi saya beruntung dipertemukan dengan orang-orang baik, yang memahami value saya. Oleh karena itulah, mereka nggak keberatan dalam mengatasi kenaikan harga yang saya ajukan.

Lalu gimana semisal klien menolak permintaan tersebut?

Itu tandanya kita kudu move on. Mungkin itu pertanda bahwa orang tersebut bukanlah “jodoh” kita.

Lantas jangan lekas berkecil hati. Kita barangkali tidak berjodoh dengan klien tersebut, tapi pintu peluang tidak pernah tertutup bagi siapa saja yang giat berusaha.

3. Pertarungan melawan freelance writer bertarif rendah tidak ada habisnya

Ya, itulah sisi terjelek dari persaingan melawan sesama penulis lepas dalam memenangkan sebuah proyek: bagaimanapun juga, nyaris mustahil mengalahkan seseorang yang menonjolkan “harga murah” sebagai kelebihannya.

Pasti, pasti akan selalu ada orang yang rela mengerjakan pekerjaan tersebut untuk fee yang lebih murah ketimbang kita. Terutama para freelance writer pemula, trik ini jadi andalan mereka dengan dalih “gapapa rugi sedikit yang penting dapat pengalaman” yang biasanya saya balas dengan, “Woi, nggak gitu juga kali!”

Oh, saya nggak marah kok, tapi agak kesal aja (apa bedanya?). Lebih tepat kalau dibilang kasihan, malah. Yang begini biasanya cenderung jadi kebiasaan yang terbawa sampai kapanpun.

Yah, itu bukannya saya menyumpahi kalau fee mereka tidak akan pernah naik – tentu meningkat, saya percaya itu – tapi kiat ini ibarat siklus merugikan yang nggak ada matinya.

Sekali saja mindset ini tertanam di kepala kita, agaknya susah untuk melepaskan diri darinya.

Mengapa?

Ya itu tadi, karena faktor kebiasaan. Terbiasa bekerja dengan cara itu dan terbiasa mendapatkan klien dalam waktu instan berkatnya – yang seperti kita ketahui bersama, tidak mencerminkan value kita yang sesungguhnya – melenakan mereka di dalam lingkaran setan tak berujung itu.

4. Bekerja untuk klien-klien murahan tidak sepadan dengan usaha dan waktu yang dikerahkan

Kalau ditanya pernahkah saya berurusan dengan klien-klien rewel bin nyebelin, jawabannya udah kentara di depan mata: sering banget!

Orang-orang ini rata-rata nggak menyampaikan kemauannya dengan jelas (membiarkan saya bekerja tanpa brief) tapi sok paling tahu sedunia bahwa hasil kerjaan saya sama sekali jauh dari keinginan mereka.

Yang kamu lakukan itu jahat, Kak! Hiks!

Walaupun nggak semua orang yang membayar rendah itu patut dicap sebagai klien-klien bermasalah, tapi logikanya sederhana saja: meladeni mereka yang tidak berkeinginan untuk membayar mahal buang-buang waktu.

Itu nggak sepadan dengan effort yang kita kerahkan untuk menuntaskan permintaan mereka yang ngalor-ngidul. Duh, belum lagi kalau revisinya seabrek. Bikin pusing deh!

Saya rela kok kalau diminta untuk memperbaiki tulisan saya yang dirasa masih kurang sempurna (belum pas dengan permintaan klien), tapi bagian yang bikin sebel adalah ketika mereka mengajukan request yang nggak masuk akal.

Apa? Merombak ulang artikel yang sudah ditulis karena keliru memberikan topik? Deadline dipercepat secara sepihak? Bah, ini sih kelewatan namanya!

Pemberian fee yang sedari awal jumlahnya tidak seberapa itu terasa makin tidak adil karena termakan revisi-revisi ini. So sad.

Kesimpulan

Di dalam bisnis apapun itu, prinsip “pembeli adalah raja” adalah hukum rimba yang dianut banyak orang. Penjual sebisa mungkin diharapkan untuk menomersatukan pembeli di atas segala-galanya.

Tapi itu kembali lagi ke seperti apa tipe pembeli yang dihadapi. Apakah “raja” tersebut layak menerima seluruh curahan perhatian dan dedikasi kita? Apakah “raja” tersebut tahu bagaimana cara menghargai jerih payah orang lain?

Saya sih maunya say goodbye aja ke klien-klien yang nggak memenuhi kriteria-kriteria tersebut.

Saya lebih kepingin bertemu dengan orang-orang yang nggak peduli seberapa sering saya diminta revisi oleh mereka, upah yang mereka berikan masih mencukupi untuk menutupi “tambalan-tambalan” tambahan tersebut.

Oh ya, kalau Anda sendiri bagaimana?

Pernahkah Anda berada di situasi yang sama sebelumnya tentang bersaing melawan freelance writer yang bernyali mengunggulkan tarif rendah? Bagaimana trik Anda untuk mengatasinya?

Sharing pengalaman Anda ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

2 Komentar

  1. Menarik banget nget ini!

    Terutama dalam pertarungan melawan freelance bertarif rendah.

    Saya dulu pernah jualan frozen brownis, waktu itu udah ada saingannya beberapa, saya bingung kan ya gimana mencuri pasar, kagak punya ilmu bisnis sama sekali, akhirnya saya pakai harga rendah.

    Hasilnya, perlahan tapi pasti pasar melirik, tapi saya mau pengsan, atuh mah kek kerja rodi, dan keuntungannya cuman bangun nama doang, hahaha.

    Kalau modal gede sih it's OK, tapi kalau pas-pasan, yang ada saya koit duluan hahaha.

    Btw, sebenarnya bahkan dalam dunia bisnis, khususnya di bidang penjualan ya, bukan jasa dengan plan yang panjang.
    Nggak ada tuh yang pakai strategi banting harga.

    Semua itu udah dihitung dari awal, dan cara mereka mainin harga, dengan gantian aja, produk A turun, produk B naik ke normal, di mana kalau dihitung ya, sama aja :D

    Nah balik ke freelancer pakai turunin harga, sebenarnya sih kalau menurut saya karena mereka butuh, tapi kasian aja, saya sangat yakin yang murah gitu nggak bakal bertahan lama.

    Dan yang punya value lebih bakal dilirik juga akhirnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kak Rey, yang bikin nggak tega ya itu tadi, kasihan aja... Sama seperti Kak Rey yang kerja rodi mempopulerkan bisnisnya, freelancer pemula ini juga begitu. Demi alasan yang sama, udahlah gapapa dibayar seikhlasnya aja, syukur-syukur bisa jadi batu lompatan supaya di-notice lebih banyak klien. Padahal ya hmmm nggak gitu juga, friends ;(

      Betul sekali, yang paling menarik biasanya bukan dilihat dari harganya, tapi dari value-nya :D Ngomong-ngomong, bisnis brownies-nya masih lanjut nih Kak? :)

      Hapus

Back to Top