5 Tips Menggunakan Windows 7 dengan Aman di Tahun 2021

Tips Menggunakan Windows 7

Windows 7 adalah salah satu operating system yang menempati ruang spesial di hati saya. Saya menerima laptop pertama saya sebagai hadiah masuk SMA (sekitar 8 tahun yang lalu), dan Windows 7 adalah sistem operasi yang tertanam di laptop HP 1000 itu.

Macam-macam alasan mengapa saya jatuh hati dengan OS tersebut dan saya nggak mampu memperincinya satu-persatu.

Namun, jika dibandingkan dengan Windows 8 dan 10 yang sudah pernah saya coba juga setelah meng-upgrade sistem operasi laptop tersebut, saya dengan tegas bisa mengatakan bahwa Windows 7 works better than them.

Dan, sebagai orang yang terlanjur cinta mati dengan Windows 7, saya menyesal sejadi-jadinya telah meminta orang tua saya untuk mengganti OS tersebut. Duh, tahu gitu mending saya biarin aja! Nggak perlu upgrade segala, jadinya malah begini!

Di pertengahan bulan Desember 2020 kemarin, laptop yang sudah menemani saya hingga saya lulus kuliah dan menjadi freelance writer itu tahu-tahu rusak. Saya coba perbaiki, tapi teknisi langganan saya mengakui bahwa there was no way for this to get fixed.

Rasanya pilu banget. Tapi, mau diapakan? Singkat cerita, saya membeli notebook Dell bekas ber-Windows 7.

Bukan main girangnya saya ketika pertama kali menyalakan notebook tersebut. Bunyi startup-nya yang khas segera menyapa saya. Gila, kangen banget! Saya menghabiskan beberapa saat untuk menjelajahi tampilannya, bernostalgia dengan kenangan di masa lalu.

Tetapi, kebahagiaan bukan satu-satunya perasaan yang meliputi saya kala itu. Seingat saya, sekitar setahun yang lalu, sempat terjadi keributan di kalangan pengguna OS tersebut lantaran satu pengumuman yang diterbitkan oleh Windows. Begini isinya.

Dukungan untuk Windows 7 telah berakhir pada 14 Januari 2020. Jika masih menggunakan Windows 7, PC Anda dapat menjadi lebih rentan terhadap risiko keamanan.

Kedengarannya sederhana, tapi saya tahu efek samping seperti apa yang mungkin timbul ke depannya jika saya ngotot mempertahankan operating system ini:

  • Perangkat saya berisiko disusupi virus dan worm jenis baru
  • Adanya kerentanan untuk diserang hacker
  • Beberapa program mungkin tidak akan kompatibel lagi dengan sistem operasi ini
  • Penggunaan antivirus aja dirasa nggak mencukupi untuk melindungi notebook saya dari serangan varian virus baru
  • Ancaman cyberattacks membayangi setiap waktu

Ngeri banget kan?

Karena saya nggak mau kehilangan Windows 7 yang saya cintai lagi (what?), saya pun mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi tentang bagaimana cara menggunakan Windows 7 dengan aman meskipun masa berlakunya telah berakhir.

Saya menjumpai beberapa pakar IT yang mengatakan bahwasannya pilihan untuk mempertahankan Windows 7 di masa sekarang ialah sebuah preferensi yang bebal.

Wah, ngatain orang nih?

Saya sesungguhnya sedikit tersinggung mendengar komentar bernada miring seperti itu, mengingat afeksi saya yang mendalam terhadap Windows 7, namun amukan itu cepat-cepat saya tarik kembali tatkala mengetahui bahwa sebetulnya ada beberapa kiat untuk tetap memakai Windows 7 dengan terjamin keamanannya.

Dan, inilah tips menggunakan Windows 7 dengan aman di tahun 2021 yang saya terapkan untuk melindungi notebook saya dari risiko-risiko yang nggak diinginkan.

1. Memasang antivirus

Secara teknis, notebook kita masih berfungsi dengan normal tanpa perlindungan antivirus apapun lo. Namun, takut nggak sih kalau membiarkan perangkat kita terekspos ke berbagai macam bahaya begitu aja?

Faktanya, kebanyakan pengguna komputer atau laptop kurang berhati-hati dalam menghindari ancaman-ancaman yang mengintai, nggak terkecuali saya juga. Siapa yang tahu kalau diam-diam notebook kita disusupi virus-virus merugikan?

Tanpa antivirus, kita nggak bakal menyadarinya. Tahu-tahu komputer kita bertingkah nggak wajar, dan boom, error deh.

Inilah sebabnya mengapa instalasi antivirus itu sangat diperlukan, gengs, terlebih-lebih untuk melindungi perangkat-perangkat dengan OS jadul.

Memangnya gimana sih cara kerja antivirus?

Antivirus beroperasi dengan memblokir situs-situs yang mempunyai sertifikat-sertifikat keamanan yang kelewat expired serta menghalangi ads atau scripts yang sifatnya “jahat”.

Situs-situs web yang kita akses setiap hari barangkali merupakan situs-situs yang kita kenal aman untuk dikunjungi, tapi siapa yang tahu apa yang sejatinya tersembunyi di dalamnya? Terus nih ya, seaman apapun website-nya, itu nggak seratus persen menjamin keamanannya hingga kapanpun. Mereka juga rentan disusupi malware lo!

Itu hitungannya masih website kelas atas ya, terus apa kabar dengan website remeh yang bertebar buanyak di cyberspace?

Soal memilih antivirus yang bagus, hendaknya kita mempertimbangkan beberapa fitur krusial ini.

  1. Menawarkan opsi real-time scanning
  2. Dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan update otomatis
  3. Memberikan perlindungan untuk beberapa apps atau menyeluruh
  4. Melakukan pembersihan otomatis
  5. Diperkuat dengan kapasitas melawan segala jenis malicious software

Sejauh ini, saya menemukan tiga antivirus terbaik gratisan untuk dipasang di notebook saya yang notabene memakai Windows 7, yaitu AVG AntiVirusFree, Bitdefender Antivirus Free Edition, dan Avast Free Antivirus.

Semisal teman-teman punya preferensi yang berbeda, it’s OK kok!

Sepanjang antivirus yang Anda pilih sanggup memberikan kelima kualitas di atas, maka seharusnya itu memadai. Oh ya, lebih bagus lagi jika Anda memutuskan untuk memasang versi berbayarnya karena fitur yang ditawarkan umumnya lebih bervariatif dan komplet!

2. Memperbarui browser

Browser atau peramban web yang kita pakai lazimnya dilengkapi dengan beberapa fitur keamanan bawaan. Nah, fitur-fitur ini berarti banget buat kita-kita yang kepingin komputer atau laptopnya senantiasa terbebas dari malware dan ancaman-ancaman lainnya.

Sejauh ini, saya menggunakan Chrome untuk berselancar di internet. Sedari dulu saya memang pengguna sejati Chrome. Beruntungnya, Google berjanji bahwa Chrome masih kompatibel untuk Windows 7 setidaknya sampai Juli tahun depan.

Saya nggak yakin sih gimana dengan browser lainnya, tapi kebanyakan peramban web melakukan pembaruan secara otomatis atau minimal memberitahu pengguna kalau, “Eh, waktunya update nih!”

Saat kita menerima pesan itu, kita sewajarnya nggak menunda-nunda lagi untuk meng-update browser kita guna memperoleh pembaruan keamanan yang paling mutakhir. Apapun browser-nya, kita nggak bisa luput dari tugas yang satu ini, ya!

Dan satu lagi: hindari memakai Internet Explorer. Ciyus deh! Dari tahun ke tahun browser yang satu ini nggak ada capek-capeknya meninggalkan kesan negatif di mata penggunanya, kayaknya.

Sewaktu memanfaatkan browser, terkadang kita sengaja memasang ekstensi, plugin, dan add-on tertentu untuk menunjang kenyamanan berselancar kita, bukan? Andaikata ada pritilan-pritilan yang udah lama banget nggak terpakai, semestinya dicopot saja.

Kalaupun masih diperlukan, update secara berkala. Dengan begitu, laptop kita nggak rawan-rawan amat terhadap serangan.

3. Memblokir iklan

Saya amati website dan blog-blog favorit saya mempertontonkan iklan sebagai salah satu sumber penghasilan mereka, but sorry to say, nggak semua iklan-iklan itu ramah buat keselamatan notebook ber-OS jadul punya saya ini.

Pemilik blog yang nggak bertanggung jawab dapat dengan seenak hati memajang iklan-iklan dari sumber yang mencurigakan. Dan karenanya, iklan-iklan itu patut dicurigai pula keamanannya.

Jangan curigaan gitu dong Mbak, kan nggak baik su’udzon melulu ke orang lain.

Lo, bukannya bagaimana, tapi lebih baik berhati-hati daripada menyesal kemudian, toh? Mungkin banyak yang nggak tahu jika iklan-iklan yang disediakan oleh pihak ketiga yang meragukan ada kalanya memasang malware tertentu di perangkat kita tanpa kita sadari.

Andaikata itu terjadi, alamak! Kita sendiri yang dirugikan!

Bahkan situs-situs jempolan sekalipun boleh jadi ladang penuh ranjau lo.

Forbes, contohnya, mengharuskan pengunjungnya untuk menonaktifkan adblock di browser mereka sebelum menjelajahi website-nya. Ini berisiko banget! Kalau menolak, Forbes nggak mengijinkan visitor untuk masuk. Kalau mengiyakan, malware pun buru-buru menyelinap dengan bebasnya.

Jadi, demi kesejahteraan kita bersama, bijak jika kita memasang adblock untuk memblokir iklan-iklan yang berserakan di cyberspace. Lagi, it’s better to be safe than sorry.

Contoh aplikasi yang memblokir ads termasuk:

  1. uBlock
  2. AdBlock
  3. AdBlock Plus

4. Menggunakan software terbaru

Mengulang kembali apa yang saya tekankan di bagian pembukaan, beberapa software mungkin tidak akan kompatibel lagi dengan sistem operasi ini ke depannya. Namun, itu bukan berarti bahwa semua developer langsung angkat kaki mengikuti pengumuman yang diberikan Windows 7.

Misalnya, seperti yang telah dicontohkan tadi, ada Chrome yang masih aktif mendukung penggunaan di Windows 7 dan memberikan security update secara berkala.

Berdasarkan temuan saya, para ahli menyarankan supaya kita beralih ke software lain serupa Microsoft Office, atau bagi yang nggak terbiasa dengan alternatif lain, hendaknya upgrade ke Office 365. Saya masih belum menjajal tips ini, tapi sesegera mungkin bakal saya patuhi.

Yang patut diwaspadai yakni mengunduh software menyangsikan, seperti aplikasi pengunduh audio dan video yang nggak jarang dilengkapi dengan pelacak dan keylogger berbahaya pula.

5. Selalu waspada

Tahu nggak? Kiat-kiat yang kita pelajari bersama ini semestinya kita terapkan setiap saat terlepas dari apapun operating system yang kita pakai.

Namun, lantaran Windows 7 adalah OS yang kedaluwarsa, kehati-hatian kita kudu ditingkatkan!

Menyontek kata-kata Bang Napi, “Waspadalah! Waspadalah!” Hihihi.

Intinya sederhana banget sih: jangan sembarangan klik iklan atau pop-up yang ngaku-ngaku komputer atau laptop kita terinfeksi virus kecuali notifikasi tersebut datangnya dari antivirus kita, hindari mengunjungi situs-situs yang dikenal mengancam keamanan perangkat kita (e.g.: website dengan konten “dewasa”), serta cermat memilah-milah email yang ada di inboks kita. Usah dibuka kecuali kita yakin betul itu aman.

Pastikan untuk mengecek siapa pengirimnya dan apa alamat email-nya. Apabila nama dan alamatnya berbeda dari yang biasanya kita lihat, jangan ragu menghapusnya segera.

Kesimpulan

Andaikata saya boleh merangkum seluruh tips menggunakan Windows 7 dengan aman di tahun 2021 ini dengan satu kata, maka saya cuma ingin mengatakan ini: berhati-hatilah!

Ya, itulah kunci utama untuk memakai Windows 7 dengan aman untuk sekarang ini. Namun, apabila memungkinkan, segera upgrade ke Windows 10.

Untuk sementara ini, saya sedang terombang-ambing apakah saya bakal sepenuhnya beralih ke generasi teranyar Windows tersebut atau nggak. Repot memang kalau terlanjur cinta, hehehe. Yah, kita lihat aja dulu bagaimana jadinya nanti!

Bagaimana dengan kalian, gengs?

Apa sistem operasi yang Anda gunakan saat ini? Trik manjur seperti apa yang Anda praktikkan untuk menjaga keamanan piranti Anda?

Sharing siasat dan taktik Anda ya!



Peringatan: Artikel ini pertama kali diterbitkan di Berkas Narasi. Dilarang menyalin tulisan yang ada di Berkas Narasi, baik sebagian maupun seluruhnya kecuali dengan izin tertulis dari penulis dan menyertakan sumber artikel. Setiap pelanggaran akan dituntut sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku.

4 Komentar

  1. setelah windows xp akhirnya tiba juga windows 7 yahh, heuheu saya juga milih windows 7 daripada windows 8. tapi windows 10 better sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, si Windows Vista sengaja dilewatin nih? Nanti nangis mewek di pojokan lo kalau dia denger hehehehe! Wah, setuju banget sih Kak, entahlah mengapa Windows 8 bisa se-asdfghjkl itu bagi saya (mon maap, susah dijelaskannya). Oh ya? Saya sendiri masih belum ngerasa oke nih sama si Windows 10, tapi bagus deh kalau overall performance-nya lebih bagus dari yang ke-8 :)

      Oh ya, terima kasih sudah berkunjung di blog saya, Kak!

      Hapus
  2. Semenjak upgrade harddisk ke ssd. Kini laptop jadul saya jadi gress banget buat ngelahap win 10.. hahah

    Laptop saya ini juadul banget. Bahkan bentukannya udh kaya timpukan batu gede alias bongsor.

    Dulu masih pke win 7 ori bawaan laptop. Dan udh sering dpet notif buat upgrade ke win 10..

    Terus, setelah mikir ini itu. Akhirnya tak upgrade. Terus jegerr. Laptop jadi lemot banget.. bahkan login aja jadi butuh waktu lama..
    Akhirnya tak coba ganti hardisk ke ssd.. ehh kok jadinya mantep.. heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lo lo lo, sama dong, notebook Dell saya ini juga dilihat sekilas udah ketahuan banget kalau laptop lawas, lha wong bentukannya bulky banget! Saya penasaran kepingin timbang, kira-kira bisa berapa kilogram ya? XD

      Mungkin itu rahasianya ya? Kayaknya saya perlu upgrade hard disk juga nih nanti kalau niatan buat update ke Windows 10 itu sudah timbul, hahahaha. Trims informasinya, Mas Bayu!

      Hapus

Back to Top